Salahsatu tanaman pantai yang berperan sebagai penahan abrasi dan tempat hidup dan berkembang biaknya mahluk hidup satwa pantai, yaitu tanaman mangrove, potensi ini dapat dikembangkan juga sebagai sumber pangan alternatif. Sumber daya alam yang melimpah disekitar pantai, yaitu tanaman mangrove dapat mejadi bagian untuk memenuhi kebutuhan
ABSTRAK Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki Pulau, mempunyai panjang garis pantai km dan luas laut sekitar 3,1 juta km 2. Wilayah lautnya yang merupakan perairan teritorial dan perairan nusantara, meliputi hampir 2/3 luas teritorialnya. Disamping itu berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia memperoleh hak kewenangan memanfaatkan Zona Ekonomi Eksklusif ZEE seluas 2,7 km 2 yang menyangkut eksplorasi, eksploitasi dan pengelolaan sumberdaya hayati dan non hayati, penelitian, dan yuridiksi mendirikan instalasi ataupun pulau buatan. Perairan laut Indonesia yang berada diantara dan disekitar kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan wilayah nasional In-donesia, disebut sebagai Laut Nusantara merupakan aset nasional yang berperan sebagai sumber kekayaan alam, sumber energi, sumber pangan, sarana lintas laut antar pulau, kawasan perdagangan, dan wilayah pertahanan keamanan. Wilayah laut yang luas dengan potensi sumberdaya yang menjanjikan, dan banyaknya masyarakat nelayan yang terlibat, menempatkan perikanan menjadi bidang dengan prospek yang menantang untuk dikembangkan secara lebih disektor kelautan terutama dalam hal pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya hayati laut sampai saat ini masih berorientasi pada peningkatan produksi hasil dari eksploitasi potensi sumber daya perikanan laut maupun budidaya untuk mengejar target pertumbuhan sektoral. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut selama ini kurang memperhatikan peningkatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Diperlukan strategi dan konsep yang jelas dalam pengelolaan laut nasional untuk mewujudkan keadilan sosial. Kata kunci wilayah laut, pengelolaan laut, hasil laut, nelayan Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT DAN IMPLIKASINYA BAGI MASYARAKAT NELAYAN Beryl Hamdi Rayhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya Email berylketintang19 ABSTRAK Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki Pulau, mempunyai panjang garis pantai km dan luas laut sekitar 3,1 juta km2. Wilayah lautnya yang merupakan perairan teritorial dan perairan nusantara, meliputi hampir 2/3 luas teritorialnya. Disamping itu berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia memperoleh hak kewenangan memanfaatkan Zona Ekonomi Eksklusif ZEE seluas 2,7 km2 yang menyangkut eksplorasi, eksploitasi dan pengelolaan sumberdaya hayati dan non hayati, penelitian, dan yuridiksi mendirikan instalasi ataupun pulau buatan. Perairan laut Indonesia yang berada diantara dan disekitar kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan wilayah nasional In- donesia, disebut sebagai Laut Nusantara merupakan aset nasional yang berperan sebagai sumber kekayaan alam, sumber energi, sumber pangan, sarana lintas laut antar pulau, kawasan perdagangan, dan wilayah pertahanan keamanan. Wilayah laut yang luas dengan potensi sumberdaya yang menjanjikan, dan banyaknya masyarakat nelayan yang terlibat, menempatkan perikanan menjadi bidang dengan prospek yang menantang untuk dikembangkan secara lebih disektor kelautan terutama dalam hal pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya hayati laut sampai saat ini masih berorientasi pada peningkatan produksi hasil dari eksploitasi potensi sumber daya perikanan laut maupun budidaya untuk mengejar target pertumbuhan sektoral. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut selama ini kurang memperhatikan peningkatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Diperlukan strategi dan konsep yang jelas dalam pengelolaan laut nasional untuk mewujudkan keadilan sosial. Kata kunci wilayah laut, pengelolaan laut, hasil laut, nelayan PENDAHULUAN Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia,memiliki pulau mempunyai panjang garis pantai km dan luas laut sekitar 3,1 juta km2. Wilayah lautnya yang merupakan perairan teritorial dan perairan nusantara, meliputi hampir 2/3 luas teritorialnya. Selain itu berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia memperoleh hak kewenangan memanfaatkan Zona Ekonomi Eksklusif ZEE seluas 2,7 km2 yang menyangkut eksplorasi, eksploitasi dan pengelolaan sumberdaya hayati dan non hayati, penelitian, dan yuridiksi mendirikan instalasi ataupun pulau buatan ANONIM, 1996. Perairan laut yang berada diantara dan disekitar kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan wilayah nasional Indonesia, disebut sebagai Laut Nusantara merupakan aset nasional yang berperan sebagai sumber kekayaan alam, sumber energi, sumber bahan makanan, media lintas laut antar pulau, kawasan perdagangan, dan wilayah pertahanan keamanan. Wilayah pesisir dan lautan Indonesia dikenal dengan kekayaan dan keaneka- ragaman sumber daya alamnya, baik sumber daya yang dapat pulih perikanan, hutan mangrove, dan terumbu karang dll., maupun sumberdaya yang tidak dapat pulih minyak bumi dan gas serta mineral atau bahan tambang lainnya. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati biodiversity laut terbesar di dunia, karena memiliki ekosistem pesisir yang khas seperti hutan mangrove, terumbu karang coral reefs, dan padang lamun sea grass beds Sebagian besar sumber daya ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam perkembangan sejarah dan budaya manusia, pengetahuan tentang laut berkembang pula. Sejak berabad-abad lamanya laut dipandang sebagai kawasan perburuan untuk menangkap ikan untuk pemenuhan kebutuhan protein hayati atau sebagai media lalu lintas pelayaran belaka. Saat ini laut telah dipandang sebagai jalan raya lintas laut antar benua dan antar samudera, serta sebagai sumberdaya hayati dan mineral untuk menunjang kehidupan. Pada abad 21 dapat dipastikan akan berlangsung perlombaan antar bangsa untuk menguasai dan memanfaatkan lautan demi kehidupan yang lebih baik. Pemanfaatan sumber daya laut bertujuan untuk mencukupi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Pertambahan penduduk yang pesat dan dirasakan makin sempitnya daratan, memaksa kita untuk berangsur-angsur mengalihkan kegiatan ekonomi ke laut. Guna memenuhi kebutuhan hidup akan pangan, mineral maupun bahan mentah, kita mencari sumber- sumber baru di laut. Peluang pengembangan sumber daya laut ini belum sepenuhnya didaya gunakan, terutama karena kendala kurangnya pengetahuan, baik yang dasar maupun terapannya. Dalam kaitan ini, nelayan, sumber daya manusia yang langsung bergelut dalam eksploitasi perikanan laut perlu mendapat perhatian yang proposional. Kenyataan bahwa umumnya masyarakat nelayan berpendidikan rendah, menempatkan mereka dalam himpitan kemiskinan. Dengan peningkatan pemanfaatan sumber daya hayati laut, diharapkan kehidupan nelayan ikut terangkat pula, melalui terbukanya bidang usaha dan lapangan kerja. Bila kita tidak mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa Indonesia hanya akan selalu menjadi ladang pasar dunia, dan bukan menjadi produsen dunia. PEMANFAATAN SUMBER DAYA LAUT DI INDONESIA Dalam uraian berikut tentang sumber daya laut dibatasi pada sumber daya dapat pulih renewable resources yaitu sumber daya hayati laut dengan ekosistem yang menyusunnya. Sumber daya hayati laut meliputi hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan rumput laut, dan perikanan laut . A. Hutan Mangrove Hutan mangrove merupakan ekosistem pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir dan lautan. Secara ekologis, hutan man- grove berfungsi sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai macam biota, penahan abrasi, amukan angin taufan dan tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut dan lain sebagainya NONTJI, 1987. Secara ekonomis, hutan mangrove menghasilkan kayu, daun- daunan sebagai bahan baku obat dan lain sebagainya SUKARDJO, 1986. Tidak kurang dari 70 macam kegunaan pohon mangrove bagi kepentingan manusia telah diidentifikasikan, meliputi "produk langsung" seperti bahan bakar kayu, bahan bangunan, alat penangkap ikan, pupuk pertanian, bahan baku kertas, makanan, obat-obatan, minuman, tekstil, dan "produk tidak langsung" seperti tempat rekreasi, dan bahan makanan DAHURI et al, 1996. Kegunaan tersebut secara tradisional telah dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir di Indonesia. Potensi lain dari hutan mangrove yang belum dikembangkan secara optimal adalah sebagai kawasan wisata alam ecoturism. Kegiatan wisata alam semacam ini telah berkembang lama di Malaysia dan Australia. Hutan mangrove ini dapat menempati bantaran sungai-sungai besar hingga 100 km masuk ke pedalaman seperti dijumpai di sepanjang Sungai Mahakam dan Sungai Musi. Luas hutan mangrove di Indonesia mengalami penyusutan terus menerus, dalam satu dekade luas hutan mangrove tercatat turun dari ha 1982 menjadi ha pada tahun 1993 DAHURI et al., 1996. Penyebaran hutan mangrove di pesisir Indo- nesia meliputi daerah pantai landai terutama dekat muara sungai. Ekosistem hutan mangrove di Indone- sia mempunyai keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dengan jumlah total spesies 89, terdiri dari 35 spesies tanaman, 9 spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit, dan 2 spesies parasitik. Keanekaragaman hayati hutan mangrove yang tinggi merupakan aset yang sangat berharga baik dilihat dari fungsi ekologi maupun fungsi ekonomi. B. Terumbu Karang Ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas organik yang tinggi, demikian pula keanekaragaman hayatinya. Terumbu karang berfungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik pantai, tempat pemijahan, tempat asuhan dan mencari pakan bagi berbagai biota. Terumbu karang juga mempunyai produk yang bernilai ekonomis penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang, dan berbagai jenis keong dan kerang SUKARNO et al., 1984 Di beberapa tempat di Indonesia, karang batu hard coral dipergunakan untuk berbagai kepentingan seperti konstruksi jalan dan bangunan, bahan baku industri, dan perhiasan. Dalam industri pembuatan kapur, karang batu sering ditambang sangat intensif seperti terjadi di pantai-pantai Bali hingga mengancam kelestarian pantai SUHARSONO, 1996. Dari segi estetika, terumbu karang yang masih utuh menampilkan pemandangan yang sangat indah, berbeda dengan ekosistem lainnya. Taman-taman laut yang terdapat di pulau atau pantai yang mempunyai terumbu karang menjadi terkenal seperti Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Keindahan yang dimiliki oleh terumbu karang merupakan salah satu potensi atraksi wisata bahari yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sementara i t u potensi lestari sumberdaya ikan karang di perairan laut Indo- nesia diperkirakan sebesar /ton/ tahun. belum termasuk potensi ikan hias sebesar 1,5 milyar ekor, dengan luas total terumbu karang lebih kurang km2 ANON1M, 1998 Ekosistem terumbu karang di Indone- sia tersebar di seluruh wilayah pesisir dan lautan di seluruh Nusantara. Terumbu karang di Indonesia beragam tipenya, dimana semua tipe terumbu karang yang mencakup terumbu karang tepi fringing reefs, terumbu karang penghalang barrier reefs, terumbu karang cincin atoll dan terumbu tambalan patch reefs terdapat di perairan laut Indonesia. Terumbu karang tepi terdapat di sepanjang pantai dan mencapai kedalaman sekitar 40 meter. Terumbu karang penghalang berada jauh dari pantai mencapai puluhan atau ratusan kilometer dipisahkan oleh laguna yang dalam sekitar 40 - 75 meter, di Indonesia diantaranya tersebar di Selat Makasar dan sepanjang tepian Paparan Sunda, sedang terumbu karang cincin tersebar di Kepulauan Seribu dan Taka Bone Rate. C. Padang Lamun Lamun seagrass adalah tumbuhan berbunga Spermatophyta yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup di bawah permukaan air laut FORTES, 1990. Lamun hidup di perairan dangkal agak berpasir, sering juga dijumpai di ekosistem terumbu karang. Lamun membentuk padang yang luas dan lebat di dasar laut yang masih terjangkau oleh cahaya matahari dengan tingkat energi cahaya yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun tumbuh tegak, berdaun tipis yang bentuknya mirip pita dan berakar jalar. Tunas-tunas tumbuh dari rhizoma, yaitu bagian rumput yang tumbuh menjalar di bawah permukaan dasar laut. Lamun berbuah dan menghasilkan biji. Pertumbuhan padang lamun memerlukan sirkulasi air yang baik. Air yang mengalir inilah yang menghantarkan zat-zat nutrien dan oksigen serta mengangkut hasil metabolisme lamun, seperti karbon dioksida CO2 keluar daerah padang lamun. Secara umum semua tipe dasar laut dapat ditumbuhi lamun, namun padang lamun yang luas hanya dijumpai pada dasar laut lumpur pasiran dan tebal. Padang lamun sering terdapat di perairan laut antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Di wilayah perairan Indonesia terdapat sedikitnya 7 marga dan 13 jenis lamun, antara lain jenis Enhalus acaroides dari suku Hydrocharitaceae. Penyebaran ekosistem padang lamun di Indonesia Den HARTOG, 1970 mencakup perairan Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Irian Jaya. Di dunia, secara geografis lamun ini tampaknya memang terpusat di dua wilayah yaitu di Indo Pasifik Barat dan Karibia. Keberadaan padang lamun dapat menstabilkan dasar laut. Padang lamun berfungsi sebagai perangkap sedimen dan distabilkan. Padang lamun merupakan daerah penggembalaan grazing ground bagi hewan- hewan laut seperti "duyung" mamalia, penyu laut, bulu babi dan beberapa jenis ikan. Padang lamun juga merupakan daerah asuhan nursery ground bagi larva-larva berbagai jenis ikan. Tumbuhan lamun dapat digunakan sebagai bahan makanan dan pupuk. Misalnya samo-samo Enhalus acaroides oleh penduduk Kepulauan Seribu dimanfaatkan bijinya sebagai bahan makanan. D. Rumput laut benthic algae Potensi rumput laut alga di perairan Indonesia dapat diamati dari potensi lahan budidaya rumput laut yang tersebar di 26 propinsi di Indonesia. Potensi rumput laut di Indonesia mencakup areal seluas ha dengan potensi produksi sebesar ton/ tahun DAHURI et al, 19964. Budidaya rumput laut sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat di daerah pantai seperti Bali, PP. Seribu, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan Maluku. Perkembangan budidaya tersebut mengalami pasang surut akibat masalah pemasaran yang turun naik tidak menentu. Namun sekarang pemasarannya tidak masalah justru karena krisis ekonomi membawa angin segar bagi produk pertanian untuk ekspor dengan naiknya nilai dolar ATMADJA et al, 1996. Secara tradisional rumput laut dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir terutama sebagai bahan pangan, seperti untuk lalapan, sayur, acar, manisan, kue, selain juga dimanfaatkan sebagai obat NONTJI, 1987. Pemanfaatan untuk industri dan sebagai komoditas ekspor berkembang pesat pada beberapa dasawarsa terakhir ini. Pemanfaatan rumput laut untuk industri terutama oleh kandungan senyawa kimia didalamnya, khususnya karagenan, agar, dan algin. Karagenan merupakan bahan kimia yang dapat diperoleh dari berbagai jenis alga merah seperti Gelidium, Gracilaria dan Hypnea, se- dan" algin adalah bahan yang terkandung dalam alga coklat seperti Sargassum. Algin banyak digunakan dalam industri kosmetika sebagai bahan pembuat sabun, cream, lotion, shampo, dalam industri farmasi digunakan untuk membuat emulsifier, stabi- lizer, tablet, salep, kapsul, dan filter. Algin juga dipakai dalam industri tekstil, keramik, fotografi, dan sebagai bahan aditif. Agar-agar merupakan bahan baku pokok pembuatan tepung agar-agar, baik untuk industri skala besar maupun dalam industri rumah tangga. Agar-agar dipakai dalam industri makanan sebagai thick- ener dan stabilizer, pada industri farmasi dan bidang mikrobiologi untuk kultur bakteri. Bidang industri kecantikan memanfaatkan agar- agar untuk pembuatan bahan dasar salep, cream, sabun, lotion dan lain sebagainya.. Dengan melihat besarnya potensi pemanfaatan alga, terutama untuk ekspor, maka saat ini usaha budidayanya mulai semarak dilakukan masyarakat pesisir. Usaha budidaya rumput laut ini berkembang di Kepulauan Seribu Jakarta, Bali, Pulau Samaringa Sulawesi Tengah, Pulau Telang Riau, dan Teluk Lampung. Jenis rumput laut yang dibudidayakan yaitu Kappaphychus alvarezii, yang sebelumnya dikenal sebagai Echeuma alvarezii. E. Sumberdaya Perikanan Laut Sumberdaya perikanan laut di Indonesia disusun dalam kelompok-kelompok Pelagis Besar, Pelagis Kecil, Demersal, Udang/ Krustasea lainnya, Ikan Karang, Ikan Hias, Rumput Laut, Moluska Teripang/ Ubur-ubur, Benih Alami, Reptilia dan Mamalia laut. Nama-nama jenis ikan yang termasuk di dalam masing-masing kelompok disusun dalam Tabel 1. Sementara itu sebagai dasar perhitungan potensi sumberdaya ikan di Indo- nesia, telah disepakati bahwa perairan laut In- donesia dibagi dalam sembilan wilayah pengelolaan perikanan meliputi Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Samudera Hindia, Selat Makasar dan Laut Flores, Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik, Teluk Tomini dan Laut Maluku, Laut Arafura. Secara nasional potensi lestari sumberdaya perikanan laut yang meliputi sumberdaya perikanan pelagis besar, pelagis kecil, demersal, udang, ikan karang, dan cumi-cumi adalah sebesar 6,2 juta ton/ tahun ANONIM, 1998. Dalam laporan tersebut ANONIM, 1998 tersirat bahwa pada tahun 1997, total produksi perikanan laut sejumlah 3,8 juta ton diantaranya kelompok ikan 84%, krustasea 6%, moluska 3%, rumput laut 3%, dan binatang air lainnya 4%. Tingkat pengusahaan pemanfaatan sumberdaya ikan tersebut dibandingkan dengan potensi sumberdaya ikan yang besarnya 6,2 juta ton, adalah 62% nya. Dengan demikian peluang pengembangan sektor perikanan masih terbuka. Peluang pengembangan untuk perikanan tangkap untuk beberapa jenis komoditas ikan ekonomis penting disajikan pada Tabel 2. Selain potensi perikanan tangkap di laut, potensi perikanan lainnya yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah budidaya perikanan baik budidaya pantai maupun budidaya laut. Potensi budidaya pantai tambak sekitar ha yang tersebar diseluruh wilayah perairan Indonesia dan yang baru dimanfaatkan untuk budidaya ikan bandeng, kakap, udang windu dan jenis-jenis lainnya hanya sekitar ha DAHURI et al., 1996. Dengan demikian peluang pengembangan usaha budidaya masih terbuka luas. Usaha budidaya mempunyai prospek yang baik dimasa yang akan datang dalam memajukan taraf hidup para nelayan disekitar pesisir laut. Beberapa komoditas perikanan saat ini sudah mulai dikembangkan untuk di budidayakan dan mempunyai prospek baik yaitu berbagai jenis ikan kerapu, kakap putih, kakap merah, bandeng, lola, batu laga, kerang mutiara, dan teripang. F. Bahan-bahan Bioaktif Bahan-bahan bioaktif Bioactive sub- stances atau berbagai macam bahan kimia yang terkandung dalam tubuh biota laut merupakan potensi yang sangat besar bagi penyediaan bahan baku industri farmasi, kosmetika, pangan dan industri bioteknologi lainnya. Sejauh ini, pemanfaatan potensi bahan-bahan bioaktif untuk keperluan industri terutama bioteknologi masih rendah DAHURI et al., 1996. Pemanfaatan bahan-bahan bioaktif natural product dari biota laut praktis belum berkembang, padahal di negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Malaysia, industri bioteknologi yang mengelola bahan- bahan bioaktif dari laut telah menjadi salah satu industri andalan. Di Hawai, Amerika Serikat, yang hanya memiliki sedikit terumbu karang, telah berhasil mengembangkan industri pembuatan tulang dan gigi palsu yang terbuat dari hewan karang. Di Madagaskar, salah satu jenis biota terumbu karang telah diekstrak zat bioaktifnya untuk industri obat anti kanker. Indonesia yang memiliki keaneka- ragaman hayati tinggi mempunyai potensi besar untuk mengembangkan industri bioteknologi. Hal ini merupakan tantangan untuk diwujudkan untuk dinikmati hasilnya. IMPLIKASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA LAUT Wilayah laut yang luas dengan potensi sumberdaya yang menjanjikan, dan banyaknya masyarakat nelayan yang terlibat, menempatkan perikanan menjadi bidang dengan prospek yang menantang untuk dikembangkan secara lebih proposional. Pembangunan perikanan termasuk budidaya laut perlu ditingkatkan, baik sarana, prasarana, maupun sumberdaya manusianya sehingga potensi biota laut dapat dimanfaatkan secara optimal, dengan tetap memperhatikan Kelestarian daya dukungnya. Pembangunan perikanan juga ditujukan untuk terwujudnya industri perikanan yang mandiri didukung oleh usaha yang mantap dalam pengelolaan, penangkapan, budidaya laut, pengolahan dan pemasaran hasilnya sesuai dengan potensi lestari sekaligus meningkatkan taraf hidup nelayan. Pembangunan perikanan laut bertujuan untuk dapat memanfaatkan sumber daya secara optimal tanpa mengganggu kelestariannya serta diharapkan dapat memberikan kesejahteraan pada masyarakat nelayan melalui tenaga kerja dan dapat meningkatkan pendapatan negara melalui pajak pendapatan dan devisa dari ekspor produknya. Dengan demikian diharapkan pemanfaatan sumber daya hayati laut akan membuka kesempatan kerja dan bidang usaha baru. Pemanfaatan sumber daya laut senantiasa didasarkan pada strategi berkelanjutan sustainable, dimana pemanfaatan harus memperhatikan aspek pelestarian. Upaya pelestarian dimaksudkan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya laut dengan tetap memperhatikan daya dukungnya secara optimal. Untuk itu perlu dilakukan pengusahaan yang tepat yang berorientasi pada potensi lestari sumber kekayaan laut guna mencegah eksploitasi dan eksplorasi yang berlebihan. Untuk maksud tersebut, informasi yang berkaitan dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan JTB dan potensi MSY mempunyai peran penting dalam perencanaan pembangunan perikanan. Jumlah kapal ikan yang boleh beroperai di suatu perairan harus dihubungkan dengan keberadaan nilai JTB dan potensinya DAHURI et al., 1996. Jumlah JTB adalah sekitar 70-90% dari total potensinya sesuai dengan kemampuan reproduksi jenis yang ditangkap. Untuk beberapa jenis yang kemampuan reproduksinya rendah, seperti ikan kerapu dll., maka nilai JTB nya akan lebih rendah daripada angka tersebut. Pembangunan disektor kelautan terutama dalam hal pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya hayati laut sampai saat ini masih berorientasi pada peningkatan produksi hasil dari eksploitasi potensi sumber daya perikanan laut maupun budidaya untuk mengejar target pertumbuhan sektoral. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut selama ini kurang memperhatikan peningkatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Eksploitasi itu tidak memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat pesisir nelayan dan petani ikan kecil serta kurang menyediakan lapangan kerja baru yang sangat penting dalam mengurangi problem pengangguran, apalagi bagi penerimaan negara. Masyarakat nelayan masih tergolong masyarakat miskin yang bermukim di desa- desa pesisir. . Masalah yang dihadapi adalah pengetahuan nelayan yang masih rendah, kurangnya prasarana sosial, serta belum adanya alternatif mata pencaharian nelayan pada saat paceklik. Hal demikian merupakan tantangan untuk meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat nelayan sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan. Dalam upaya meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat nelayan dan desa-desa pesisir, beberapa hal perlu dilakukan, antara lain a mendorong usaha peningkatan hasil tangkap nelayan kecil melalui penyediaan wilayah penangkapan yang bebas dari persaingan dengan kapal penangkap ikan berteknologi canggih, b meningkatkan produksi usaha nelayan kecil dan membina industri kecil pengolahan hasil laut, c meningkatkan keandalan system distribusi/ pemasaran, d mengembangkan sentra produksi perikanan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan peran serta masyarakat desa pantai. Budidaya laut yang masih terbuka peluang pengembangannya, merupakan kegiatan yang akan melestarikan sumber daya berbagai komoditas perikanan ekonomis penting dan menjamin keberlangsungan. produksinya, juga membuka peluang angkatan kerja bagi masyarakat khususnya nelayan maupun bidang usaha. Komoditas penting perikanan bisa sebagai bahan pangan maupun bahan dasar raw material suatu industri. Kita tidak bisa mengandalkan sumber daya alam secara terus menerus, karena stok alam adalah terbatas. Rekayasa budidaya laut adalah tumpuan kedepan, untuk bisa diwujudkan secepat mungkin. Produksinya, juga membuka peluang angkatan kerja bagi masyarakat khususnya nelayan maupun bidang usaha. Komoditas penting perikanan bisa sebagai bahan pangan maupun bahan dasar raw material suatu industri. Kita tidak bisa mengandalkan sumber daya alam secara terus menerus, karena stok alam adalah terbatas. Rekayasa budidaya laut adalah tumpuan kedepan, untuk bisa diwujudkan secepat mungkin. DAFTAR PUSTAKA ANONIM 1996. Benua Maritim Indonesia. BPP Teknologi dan Dewan Hankamnas, Jakarta. ANONIM 1998. Potensi dan Penyebaran Sumber Daya Ikan Laut di Perairan In- donesia. Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan Laut, Jakarta 42 hal. ATMADJA, A. KADI, SULISTIJO dan R. SATARI 1996. Pengenalan Jenis- Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi - LIPI, Jakarta 191 hal. DAHURI, R.; J. RAIS; S. P. GINTING dan SITEPU 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita, Jakarta, xxiv 305 hal. ... Keywords policy, government, science and technology, managing, ocean, boundary PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara maritim terbesar dunia dengan wilayah hampir 70% perairan laut Riyadi, 2004, mempunyai panjang garis pantai km dan luas laut sekitar 3,1 juta km 2 Darsono, 1999, masih menyisakan beberapa permasalahan klasik sektor kelautan, khususnya di wilayah perbatasan negara. Bahkan penentuan wilayah perbatasan antara Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Filipina, India, dan Vietnam masih belum disepakati secara utuh belum terselesaikan dikarenakan perbedaan kesepakatan internasional yang dipakai masing-masing negara Indonesia Maritime Institute, 2010;Wibowo, 2011;Songa, 2012. ...... Pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya hayati laut sampai saat ini masih berorientasi pada peningkatan produksi hasil dari eksploitasi potensi sumber daya perikanan laut maupun budidaya untuk mengejar target pertumbuhan sektoral Darsono, 1999. Kesepakatan untuk total allowable catches TACs antara Indonesia dengan negara lain masih belum nampak jelas. ...Anugerah Yuka AsmaraIndonesia sebagai negara kepulauan memiliki berbagai permasalahan pengelolaan sumber daya kelautan khususnya di perbatasan antar negara. Beberapa pelanggaran batas laut negara yang telah ditetapkan melalui zona ekonomi ekslusif ZEE tiap tahun marak terjadi. Misalnya penangkapan ikan oleh nelayan asing, eksplorasi tambang di bawah laut oleh beberapa perusahaan asing menyebabkan pencemaran laut di batas negara, dan minimnya penggunaan iptek dalam pengelolaan sumber daya maritim di Indonesia. Tujuan penelitian dalam studi ini ialah 1 Mengetahui dan mendeskripsikan kebijakan Pemerintah Norwegia dalam menguatkan posisi wilayah laut negaranya sekaligus pengelolaan sumber daya laut yang ada di dalamnya dan 2 Mengelaborasi langkah-langkah Pemerintah Indonesia dalam mengambil beberapa pelajaran dari keberhasilan negara Norwegia tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah melalui pendekatan literatur atau studi pustaka. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deksriptif. Teknik analisis data yang digunakan ialah dengan mengambil praktik-praktik terbaik best practices dari keberhasilan suatu negara dalam mengimplementasikan program. Hasil tinjauan dari berbagai literaturmenunjukkan bahwa pembelajaran kebijakan pengelolaan kelautan dari Norwegia sebagai salah satu negara yang memiliki geografi laut cukup luas patut menjadi contoh bagi Indonesia. Hal ini dikarenakan secara geografis dan sistem pemerintahannya memiliki kemiripan di antara keduanya, meskipun Indonesia sebagai negara maritim terluas di dunia memiliki tantangan lebih berat dari pada Norwegia yang secara geografis lebih kecil dari Reinforcement The Exclusive Economic Zone Within Managing The Indonesian Maritime Resource in Interstate Boundary Area Learning From The Government Policy of Norway in Terms of The Regulation, Utilisation For Science and Technology, Institutional Management, and International Cooperation Indonesia is an archipelago country which has the various issues in managing the living marine resource especially in interstate boundary. The violations of the interstate sea boundary which are determined by economic exclusive zone EEZ increasingly occur up to now. Such as, illegal fishing by the strange fishers, the crude oil explorations which bring about ocean pollution in interstate boundary area, and the lack of use science and technology within managing the living marine resources in Indonesia. The research objective of this study is to 1 Determine and describe the policy of the Government of Norway in strengthening the country’s position as well as marine areas marine resources therein and 2 Elaboration of the steps the Government of Indonesia to take some lessons from the success of the Norwegian state. The method used is through literature or literature approach. This research is a qualitative-descriptive. Data analysis technique used is to take the best practices best practices of a country’s success in implementing the program. The learning of policy for the maritime resource from Norway as a geographically large maritime country can became a precedent for Indonesia. It is caused between Indonesia and Norway have the similarity in the geographic area and in the government system, although Indonesia as the world’s largest maritime countries have more severe challenges from Norway who is geographically smaller than Indonesia.... Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki panjang garis pantai km dan luas laut sekitar 3,1 juta km2. Wilayah pesisir yang dimiliki Indonesia tergolong luas dan terkenal dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi Darsono, 1999. Salah satu keanekaragaman hayati yang terbentuk diwilayah pesisir adalah makroalga laut atau rumput laut. ...Dwi Sartika Abdul Razaq ChasaniAjeng Meidya NingrumSepty Wulan CahyaniMakroalga laut merupakan alga makroskopis yang dapat dijumpai di daerah intertidal kawasan pesisir Gunungkidul Yogyakarta, terdiri dari makroalga hijau Chlorophyceae, coklat Phaeophyceae, dan merah Florideophyceae. Kawasan pesisir Gunungkidul terdiri dari deretan pantai dengan berbagai tipologi sehingga keanekaragaman jenis makroalga lautnya akan berbeda pada tipologi pantai yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan komposisi spesies makroalga laut pada tipologi pantai yang berbeda di kawasan pesisir Gunungkidul Yogyakarta. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan September 2019 hingga Februari 2020 menggunakan metode purposive sampling, kemudian dilakukan pengawetan awetan basah dan identifikasi di Laboratorium Sistematika Tumuhan Fakultas Biologi UGM. Perbandingan komposisi spesies dianalisis berdasarkan Indeks Kesamaan Sorensen. Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan 37 spesies yang tergolong kedalam 28 genus, 19 family dan 10 ordo, Makroalga laut di wilayah pesisir Gunungkidul di dominasi oleh kelas Florideophyceae dengan persentase kehadiran spesies 43,37% 18 spesies; kelas Chlorophyceae 28,95% 10 spesies; dan Phaeophyceae 23,68% 9 spesies. Komposisi spesies makroalga laut di kawasan pesisir Gunungkidul memiliki tingkat kesamaan yang tinggi >0,5 walaupun hidup di tipologi pantai yang berbeda. Persamaan tertinggi ditemukan pada makroalga laut yang hidup di pantai dengan tipologi subaerial dan marine deposition coast.... Kawasan laut termasuk potensi di dalamnya juga dapat mengangkat suatu identitas citra budaya setempat Himawan, 2014. Pemanfaatan sumber daya laut di sekitar tanah tempat tinggal tentu dapat memiliki pengaruh sendiri pada orang-orang di unit sosial sekitarnya Darsono, 1999 ...Potensi sumber daya alam perikanan saat ini terus digali, namun mengubah potensi sumber daya alam menjadi penciptaan kreasi batik masih sangat terbatas. Tujuan tulisan ini adalah menghasilkan eksperimentasi berdasarkan sumber ide krustasea Arafura yang dikembangkan menjadi desain busana batik. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif-eksperimentatif, memakai model 4-D Thiagarajan 1974 yaitu 1 Definisi; 2 Desain; 3 Pengembangan; dan 4 Diseminasi. Dimulai dengan mengidentifikasi potensi lokal Arafura, seleksi, merumuskan ide-ide, eksperimentasi, hingga penciptaan desain. Hasil dari eksperimen ini adalah purwarupa busana batik berdasarkan ide krustasea yang melimpah di Arafura. Kesimpulan berupa potensi ekonomi kreatif bersumber ide lokal sumber daya alam laut Arafura, dapat menambah nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. Rekomendasi yang diberikan adalah terus menggali potensi-potensi alam lainnya yang terkait dengan sumber daya alam kelautan untuk diubah menjadi produk ekonomi kreatif.... Many efforts have been made by the government to improve the quality of life of fishermen, both in the form of empowering the fishing community, as well as improving their environmental facilities and infrastructure Amiruddin, 2014;Darsono, 1999. Empowering the fishing community in the form of training in processing fish catches, improving the quality of fishing products, increasing the business of fishery products, providing educational assistance for fishermen's children, and improving the quality of the fishermen's human resources Indarti and Wardana, 2013;Ratnawati and Sutopo, 2014;Samuel, Martono, and Susanti, 2015. ...Pandu PrayogaThis chapter aims to explore Indonesia’s maritime potential namely fisheries, energy, and trade routes as well as security challenges they are, not limited to, IUU fishing, sea-robbery, and trafficking. For the maritime potential that the government should welcome the private sectors and the community—especially the small fishermen—to manage the fisheries and maritime commerce sectors. As a member of ASEAN, it is important to Indonesia in involving other member states to combat transnational crimes. To meet these aims, the first section discusses the opportunities and constraints for the management of fisheries resources and national trade routes, including the construction of physical infrastructure. The second addresses Indonesia’s political economy interests in the ASEAN maritime security Darc Noviayanti ManikWirazilmustaan WirazilmustaanThe state is obliged to strive for the realization of justice for traditional fishing communities. Traditional communities are fishing communities whose traditional rights are still recognized in carrying out fishing activities or other legal activities in certain areas located in archipelagic waters following the international law of the sea. Coastal space areas and small islands that indigenous/traditional communities have managed from the obligation to have location permits and management take national interests and laws and regulations into account. Article 26 A of the Republic of Indonesia Number 1 of 2014 makes it easy for outsiders to control small islands that regulate the use of small islands and surrounding coasts through investment forms based on a ministerial permit that must prioritize the national interest. Positive law must protect traditional fishing communities and indigenous peoples. This research aims to analyze the regulation of fishermen’s protection from deprivation of their rights in earning a living and livelihood. The research method used is normative research, meaning the implementation of legal provisions in the form of legislation in activities for certain legal events in the community, especially the fishing community. Normative research refers to and examines laws and regulations related to the research being conducted. The research locations cover coastal areas throughout Indonesia, especially Banda Aceh, Padang, Jakarta, Semarang, Surabaya, Manado, Kupang, Ternate, and Mataram. The state can provide knowledge, guidance, and protection for fishermen from various actions of deprivation of their rights to earn a living and protection such as piracy, the practice of fishing theft, abuse of trawling, transshipment activities, threats, and violence by foreign parties to Indonesian fishers. The central government and local governments are obliged to provide facilities for guaranteeing fishing areas or fishing coverage areas that are safe and do not overlap with other Ari Wandono Mohammad AdhityaThe unmanned aerial vehicle UAV has been widely utilized all over the world for either civil or military purposes. For civil purpose, UAV can be used for maritime surveillance to prevent illegal fishing happens in Indonesia. The purpose of this paper is to analyze the composite wing structure of the maritime surveillance UAV using finite element model. The load is assumed as static and distributed along semi span using Schrenk method. In finite element model, the wing is modeled using quad4 element and boundary condition used pin in the locations where bolts will be applied. Verification, validation and mesh convergence test take into account to obtain good results from finite element model application. The analysis is conducted with load factor of and which represent maximum and minimum load factor. Based on the results, the wing composite structure of the maritime surveillance UAV is safe because it has factor of safety of for load factor and for load factor based on Tsai-Wu failure criterion. Meanwhile displacement in y direction for load factor and are mm and mm Tri VinataMaritime and marine development targets are very realistic considering the position of Indonesia is geographically located and has a comparative advantage because it is very close to the world market. On the other hand, Indonesia is located in the tropics with thousands of islands have a wealth and maritime and marine resource potential is very large. Awareness of the protection and preservation of the marine environment began to grow among the countries participating in the Convention; especially regarding the exploitation of natural resources is carried out on a large scale in the marine environment. Especially for marine areas that are still in dispute, the power of sharing activity is the distribution of marine resources with the agreement Joint exploitation the original problem as a potential source of conflict, transformed and directed into a source of cooperation. Such cooperation generally includes the exploration, exploitation, and sharing of benefits derived from the exploitation of natural resources in the region for the S AtmadjaA KadiR Sulistijo DanSatariATMADJA, A. KADI, SULISTIJO dan R. SATARI 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi -LIPI, Jakarta 191 Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara TerpaduS P Ginting DanM J SitepuS. P. GINTING dan SITEPU 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita, Jakarta, xxiv 305 hal. NusaTenggara Timur (NTT) memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa. Menurut senator DPD RI, Ibrahim Medah, hal itu harus dioptimalkan segera Senin, 13 Juli 2015 10:14 WIB Pemerintah Indonesia menyadari bahwa laut memiliki ruang yang tak terbatas untuk bisa dimanfaatkan secara ekonomi. Pemanfaatan tersebut, bisa menggerakkan roda ekonomi yang akan saling terhubung antar sektor Dengan memberikan ruang untuk dimanfaatkan, maka laut bisa menghasilkan nilai ekonomi yang tak terhingga dan bermanfaat untuk mendorong peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia. Lebih dari itu, pemanfaatan ruang laut juga akan bisa membantu Negara untuk menambah pundi-pundi keuangan secara cepat. Hal itu, juga selaras dengan tujuan untuk meningkatkan kas Negara yang berasal dari bidang pengelolaan ruang laut Namun demikian, dorongan kegiatan ekonomi tersebut tidak boleh melupakan prinsip keberlanjutan yang diyakini akan bisa menjaga lautan dari kerusakan dan menjaga keberlangsungan ekosistem yang ada di dalamnya Pemanfaatan ruang laut yang ada di wilayah perairan Indonesia harus bisa berjalan sesuai dengan prinsip berkelanjutan untuk kelestarian lingkungan dan sumber daya alam di laut. Prinsip tersebut tidak boleh dilanggar, karena untuk menjaga ekosistem di laut tetap dalam kondisi baik. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, walau ada kewajiban untuk bisa tetap menjaga prinsip keberlanjutan, namun pemanfaatan ruang laut akan tetap bisa dilakukan seperti sebelumnya yang di antaranya adalah untuk kegiatan perekonomian secara nasional. Untuk memastikan bahwa tidak ada pelanggaran prinsip berkelanjutan yang dilakukan pihak-pihak yang memanfaatkan ruang laut nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP melibatkan perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang fokus pada bidang kelautan, ekonomi, dan lingkungan. “Ruang laut sarat dengan keilmuan makanya kita ajak para ahli untuk membantu dalam menyiapkan kebijakan maupun program-program penataan ruang laut,” ungkap dia belum lama ini di Jakarta. baca Perikanan Berkelanjutan untuk Masa Depan Laut Dunia Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono kanan melihat budi daya lobster di perairan dekat Pelabuhan Perikanan Teluk Awang, Lombok Tengah, NTB, Rabu 24/3/2021. Foto KKP Menurut Trenggono, kegiatan ekonomi dengan memanfaatkan ruang laut bentuknya tidak terbatas. Selain untuk penanaman kabel atau pipa bawah laut yang berfungsi sebagai sarana telekomunikasi, juga ada kegiatan pengeboran minyak, gas alam, hingga kegiatan pariwisata. Seluruh kegiatan tersebut, sudah berkontribusi pada penerimaan negara bukan pajak PNBP dan itu selaras dengan upaya yang sedang dilakukan KKP saat ini, yakni terus mendorong peningkatan PNBP hingga mencapai Rp12 triliun pada 2024 mendatang. “Untuk itu kegiatan ekonomi di ruang laut tetap harus didorong agar manfaat yang didapat Negara maupun masyarakat menjadi lebih optimal,” tambah dia. Dalam melaksanakan kegiatan pemanfaatan ruang laut, harus dilakukan dengan selalu memegang prinsip keberlanjutan. Jika tidak, maka ancaman keberlangsungan seluruh makhluk hidup di laut akan menjadi nyata dan itu sama saja dengan memicu kerusakan dan kepunahan. Dengan menjaga prinsip keberlanjutan, maka akan terjaga juga ekosistem yang ada di laut, seperti padang lamun, terumbu karang, dan semua jenis biota laut yang sudah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Prinsip Keberlanjutan Menurut Trenggono, dengan menjaga laut melalui penerapan prinsip berkelanjutan dalam pemanfaaatan ruang laut, maka itu berarti akan ikut berperan menghasilkan oksigen, sumber pangan yang bergizi, dan juga mengurangi efek pemanasan global. “Ruang laut ini harus dijaga. Kalau enggak dijaga, efek lebih luas dalam kurun waktu yang panjang yang akan mengganggu ekosistem kehidupan,” tutur dia. baca juga Ini Buah Manis Penerapan Prinsip Berkelanjutan pada Perikanan Tuna Nelayan saat membongkar ikan tongkol di kapal. Disaat ikan tongkol banyak, harga yang awalnya Rp18 ribu/kg bisa turun hingga Rp13-14 ribu/kg. Foto Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia Sedangkan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut PRL KKP Tb Haeru Rahayu menambahkan bahwa sejak penataan dilakukan lebih baik, angka PNBP untuk bidang PRL mengalami kenaikan pada 2021 menjadi Rp7,9 miliar. Sebelumnya, pada 2020 angka PNBP dari bidang yang sama jumlahnya hanya Rp3,7 miliar. Kenaikan angka tersebut bersumber dari penerimaan yang berasal dari perizinan, pemanfaatan kawasan konservasi perairan nasional, dan kerja sama pemanfaatan KSP untuk pulau-pulau kecil yang ada di seluruh Indonesia. Agar nilai PNBP terus meningkat, pelayanan kepada masyarakat untuk bidang PRL juga terus ditingkatkan setiap saat. Selain itu, pemanfaatan teknologi juga akan semakin intensif dimanfaatkan, salah satunya untuk proses perizinan, sehingga pengajuan menjadi lebih mudah, efektif, dan efisien. Dari sisi regulasi, KKP saat ini tengah menyelesaikan peraturan turunan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja UUCK tenang pengelolaan ruang laut. Aturan turunan tersebut diharapkan bisa menyederhanakan penataan regulasi dan kegiatan ekonomi, khususnya di ruang laut. Pemanfaatan ruang laut dengan prinsip berkelanjutan memang sudah menjadi perhatian utama KKP sejak lama. Termasuk, untuk kegiatan penangkapan ikan yang bernilai ekonomi tinggi seperti Kakap dan Kerapu, juga Tuna di perairan Indonesia. Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP Yuliadi, pengelolaan harus dilakukan dengan baik melalui prinsip keberlanjutan, terutama di perairan kepulauan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia WPPNRI Timur Indonesia. Adapun, WPPNRI yang dimaksud, di antaranya adalah 713 yang mencakup wilayah perairan Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores, dan Laut Bali, 714 yang mencakup perairan Teluk Tolo dan Laut Banda, dan 715 perairan Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau. baca juga Beratnya Mewujudkan Ekonomi Kelautan yang Berkelanjutan Panorama laut dari Dermaga Ketapang menuju ke Pulau Pahawang, Lampung. Foto L Darmawan/Mongabay Indonesia Salah satu upaya untuk bisa menjaga sumber daya laut dengan berkelanjutan, adalah menjalin kerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara YKAN. Melalui kerja sama, diharapkan peningkatan produksi perikanan tangkap bisa tercapai dengan tetap berkelanjutan. Menurut Yuliadi, dengan adanya kerja sama, tata kelola perikanan untuk Kakap dan Kerapu Laut diharapkan bisa meningkat dan tetap dalam koridor prinsip keberlanjutan. Kemudian, bisa meningkatkan ketersediaan data, sistem informasi, dan teknologi. “Itu untuk pengelolaan perikanan Tuna yang berkelanjutan di perairan kepulauan,” jelas dia di Bandung, Jawa Barat, belum lama ini. Yuliadi menyebutkan, perlunya dilakukan pengelolaan dengan prinsip berkelanjutan, karena selama ini permintaan pasar terus meningkat terhadap Kakap, Kerapu Laut, dan juga Tuna. Akibatnya, itu mendorong penangkapan di alam berlebih dan bisa menyebabkan sumber daya menurun. Padahal, ketiga komoditas tersebut bernilai ekonomi penting, baik bagi Indonesia ataupun juga negara lain. Untuk itu, melalui kerja sama dengan YKAN diharapkan pengelolaan sumber daya kelautan bisa menjadi lebih baik, melalui penerapan prinsip keberlanjutan. Sinergi Kehidupan Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman mengatakan, perlindungan wilayah daratan dan perairan adalah bagian dari sistem penyangga kehidupan yang bisa mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif. Juga, bisa mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, dan membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk mewujudkan Indonesia yang lestari. Oleh karena itu, upaya untuk mengelola sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan harus senantiasa didukung penuh. Sebagai negara kepulauan dengan luas perairan yang mencapai lebih dari 70 persen dari total wilayah dengan kekayaan hayati laut yang melimpah, maka sektor kelautan dan perikanan menjadi sangat penting bagi Indonesia. “Kami berharap kerja sama ini menjadi salah satu upaya dan strategi untuk mengelolanya secara berkelanjutan,” terang dia. perlu dibaca Menghitung Indeks Kekayaan Laut Indonesia untuk Perikanan Keberlanjutan Kearifan lokal menjaga laut dijalankan penuh nelayan Aceh dengan tidak menggunakan bom atau pukat harimau. Foto Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Dalam sebuah kesempatan, Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono pernah mengucapkan bahwa untuk bisa mewujudkan pengelolaan wilayah perairan laut dengan sumber daya alam yang ada di dalamnya, itu memerlukan sinergi antara semua pihak yang terkait dan berkepentingan. Bagi dia, Pemeritah Indonesia tidak dapat bekerja sendiri untuk melaksanakan pengelolaan tersebut dan memerlukan dukungan dari semua pihak. Oleh karenanya, sinergi, kerja sama, dan kolaborasi adalah sebuah keniscayaan yang harus bisa diwujudkan. Di mata dia, perikanan tangkap Indonesia berada dalam kondisi multi spesies, multi habitat, multi stakeholder, dan multi alat tangkap. Semua keragaman itu, harus bisa bersinergi untuk mewujudkan pengelolaan laut yang bermanfaat dan berkelanjutan. “Begitu beragam kekuatan kita, begitu beragam pula tantangan sekaligus peluang yang ada, bekerja bersama dalam satu harmoni adalah prasyarat mutlak jika ingin sektor kelautan dan perikanan yang kita cintai ini melaju pesat,” pungkas dia. Artikel yang diterbitkan oleh alat tangkap ikan, biota laut, featured, kapal penangkap ikan, kesejahteraan nelayan, komitmen jokowi, perikanan berkelanjutan, Perikanan Kelautan, perikanan tangkap, satwa dilindungi, satwa laut
Olehkarena itu memahami dua sektor penting ini akan memberikan kontribusi besar bagi pengembangan bangsa secara utuh. Laut merupakan tempat penggalian sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. (PDB) hanya sekitar 20%. Padahal, negara-negara dengan potensi kekayaan laut yang lebih kecil daripada
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Gunung Salak, salah satu gunung berapi yang terletak di Jawa Barat, Indonesia, menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir dengan proyek geothermal yang sedang berjalan di wilayah tersebut. Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terbarukan dan ramah lingkungan, yaitu panas bumi, untuk menghasilkan energi geothermal di Gunung Salak merupakan salah satu proyek energi terbarukan terbesar di Indonesia. Dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy, proyek ini berfokus pada pengembangan potensi panas bumi yang ada di wilayah Gunung Salak. Salah satu alasan utama memilih Gunung Salak sebagai lokasi proyek geothermal adalah potensi panas bumi yang melimpah di daerah tersebut. Gunung Salak memiliki aktivitas vulkanik yang tinggi, menghasilkan suhu dan tekanan yang memadai untuk menghasilkan energi panas pengembangan proyek geothermal dimulai dengan melakukan eksplorasi dan pemetaan potensi panas bumi di Gunung Salak. Ini melibatkan survei geologi, pengukuran suhu, dan pengeboran sumur eksplorasi untuk menentukan potensi energi panas bumi yang dapat diekstraksi. Setelah potensi panas bumi diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengembangkan sumur produksi di lokasi yang paling menjanjikan. Sumur produksi adalah sumur geothermal utama yang digunakan untuk menghasilkan uap panas bumi yang akan menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Energi panas bumi yang dihasilkan dari sumur produksi dikonversi menjadi energi listrik melalui proses yang disebut siklus Rankine. Siklus Rankine melibatkan pemanasan air hingga menjadi uap, yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin. Setelah melewati turbin, uap panas bumi dikondensasikan kembali menjadi air dan dimasukkan kembali ke dalam sumur produksi untuk proses siklus yang berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa proyek geothermal di Gunung Salak adalah sumber energi yang dapat diperbarui secara satu manfaat besar dari proyek geothermal di Gunung Salak adalah pengurangan emisi gas rumah kaca. Energi panas bumi adalah sumber energi bersih yang menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah daripada pembangkit listrik berbasis fosil. Proyek geothermal di Gunung Salak juga berdampak positif pada pembangunan ekonomi lokal. Selain menciptakan lapangan kerja selama konstruksi dan operasional, proyek ini juga memberikan kontribusi pada pendapatan daerah melalui pembayaran pajak dan royalti kepada proyek geothermal di Gunung Salak juga melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Pertamina Geothermal Energy bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk memastikan bahwa kegiatan proyek ini dilakukan dengan memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat manfaat ekonomi, proyek geothermal di Gunung Salak juga berpotensi memberikan manfaat sosial seperti peningkatan infrastruktur dan akses energi yang lebih baik bagi masyarakat sekitar. Energi listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk penerangan dan kebutuhan industri. Keberlanjutan adalah prinsip utama dalam pengembangan proyek geothermal di Gunung Salak. Upaya dilakukan untuk meminimalkan dampak lingkungan selama konstruksi dan operasional, termasuk pengelolaan limbah, pemantauan kualitas udara, dan perlindungan terhadap flora dan fauna setempat. Namun, proyek geothermal di Gunung Salak juga menghadapi tantangan dan risiko. Salah satu tantangan utama adalah kompleksitas teknis dalam mengelola sumur geothermal yang melibatkan tekanan dan suhu tinggi. Selain itu, risiko kerusakan lingkungan juga harus diperhatikan. Untuk mengatasi risiko tersebut, Pertamina Geothermal Energy melibatkan ahli geologi, insinyur, dan lingkungan dalam semua tahap proyek. Langkah-langkah pengendalian risiko juga diimplementasikan, seperti pemantauan secara terus-menerus dan rencana tanggap geothermal di Gunung Salak juga menunjukkan potensi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil impor. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di dalam negeri, proyek ini dapat memberikan kontribusi pada keamanan energi nasional. 1 2 Lihat Ruang Kelas Selengkapnya

APOTENSI DI BIDANG KELAUTAN Kalimantan Barat memiliki sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat menjanjikan dengan garis pantai panjang 821 km. Dalam sektor perikanan tangkap di provinsi Kalimantan Barat sampai saat ini masih memberikan kontribusi terbesar bagi pembangunan sektor perikanan secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena :

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar diantaranya dikelilingi lautan yang lebih luas dibandingkan daratannya. Jasa Kelautan dapat diartikan sebagai semua potensi yang bisa dimanfaatkan dari adanya laut maupun dari laut itu sendiri, baik secara langsung maupun tidak langsung. Meski demikian, sebagai negara maritim, Indonesia masih rendah dalam memanfaatkan kekayaan laut sebagai sumber pendapatan negaranya. Tercatat, di tahun 2020 saja hanya baru 10 persen kekayaan laut yang dimanfaatkan dan mirisnya, itu pun belum maksimal pemanfaatannya. Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki sejarah yang panjang dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut dan pesisir. Hal ini terlihat dari sebagian besar kerajaan nusantara yang memiliki armada laut yang besar dan pusat pengembangan ekonomi dan peradaban di daerah pesisir. Mulai dari masa kerajaan Hindu/Budha seperti Majapahit, kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, hingga masa kolonial Belanda dengan Batavia sebagai pusatnya. Sampai saat ini, Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan serta instansi dan lembaga terkait lainnya yang bergerak di bidang perairan dan laut yang masih terus berupaya mengembangkan pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya laut dengan tetap memegang prinsip keberlanjutan. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan hasil pemanfaatan kakayaan laut Indonesia untuk kesejahteraan rakyat. Jenis-Jenis Potensi Potensi sumber daya kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil itu sendiri sangat luas meliputi bidang ekonomi, teknologi, ekologis dan lingkungan, pertahanan dan keamanan, serta pendidikan dan penelitian. Kegiatan pemanfaatan potensinya juga cukup beragam, mulai dari perikanan tangkap dan budidaya, industri manufaktur, teknologi, wisata, pertambangan dan mineral, transportasi, farmasi, kosmetik, benda-benda berharga, hingga bangunan atau konstruksi laut dan pantai. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, disebutkan bahwa sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil adalah sumber daya hayati, sumber daya nonhayati; sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan. Sumber daya hayati meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun, mangrove dan biota laut lain. Sumber daya nonhayati meliputi pasir, air laut, mineral dasar laut. Sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut yang terkait dengan kelautan dan perikanan. Sedangkan jasa-jasa lingkungan meliputi keindahan alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang laut yang terdapat di wilayah pesisir. Baca juga Potensi Kekayaan Air di Indonesia Kementerian Perikanan dan Kelautan KKP RI mencatat luas perairan laut Indonesia mencapai 5,8 juta kilometer persegi. Terdiri dari luas laut teritorial 0,3 juta kilometer persegi, luas perairan kepulauan 2,95 juta kilometer persegi, dan luas Zona Ekonomi Eksklusif ZEE 2,55 juta kilometer persegi. Didalamnya melingkupi keanekaragaman kekayaan laut Indonesia dengan keanekaragaman hayati biota laut yang mencapai spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies biota terumbu karang. Angka tersebut menunjukan Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia marine mega-biodiversity. Secara umum, berikut 7 potensi kekayaan laut dapat dimanfaatkan manusia, antara lain adalah Potensi Perikanan Tangkap Sumber daya yang dapat diperbarui merupakan sumber daya yang memiliki kemampuan pemulihan alami. Sehingga jumlahnya dapat diperbarui asal tidak diambil ekstraksi diluar kemampuannya. Sumberdaya ini meliputi perikanan tangkap, budidaya payau dan laut, bioteknologi dan biofarmakologi. Potensi perikanan tangkap di Indonesia meliputi ikan pelagis besar dan kecil, ikan demersal, ikan karang konsumsi, udang, lobster, cumi-cumi dan ikan lainnya. Potensi budidaya di Indonesia, baik pantai/payau/tambak maupun laut didukung dengan adanya kondisi pantai yang landai. Komoditas yang dikembangkan meliputi ikan bandeng, udang windu, rumput laut, kerang-kerangan, kerapu, kakap, baronang dan lainnya. Potensi Bio Teknologi/Biofarmakologi Adapun potensi berbasis bioteknologi dan/atau biofarmakologi merupakan potensi pemanfaatan sumberdaya hayati untuk keperluan makanan sehat, farmasi, kosmetik, dan lain sebagainya. Pemanfaatannya melalui pengambilan senyawa bioaktif squalance, omega-3, phycocolloids, biopolymers dari mikroorganisme, invertebrata, alga, ikan ataupun bahan organik lainnya. Potensi Pemanfaatan Garam Seiring perkembangan teknologi, pemanfaatan biota laut tidak hanya sebagai sumber makanan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk industri farmasi seperti tumor, anti cancer, antibiotik, bidang pertanian fungisida, pestisida, industri kosmetik dan makanan zat pewarna alami. Pemanfaatan garam sebagai media pengobatan dan kecantikan seperti spa juga termasuk dalam potensi bioteknologi/ biofarmakologi. Pemanfaatan potensi ini sangat besar dan memiliki pasar yang luas. Potensi Sumber Daya Mineral dan Tambang Sumber daya yang tidak dapat diperbarui adalah jenis-jenis sumber daya yang tidak mampu pulih secara alami, sehingga ketika jumlahnya habis, maka tidak dapat diganti. Sumber daya ini umumnya berupa bahan mineral dan tambang, seperti minyak bumi, gas alam, bauksit, timah, bijih besi, pasir laut dan lainnya. Potensi Energi Kelautan Energi kelautan termasuk potensi non hayati yang dapat diperbarui sebagai sumber energi terbarukan non-konvensional. Potensi energi yang dapat dikembangkan antara lain konversi energi panas laut ocean thermal energy conversion, konversi energi perbedaan salinitas, energi gelombang pasang surut dan arus, dan angin. Isu akan adanya krisis energi dari bahan bakar minyak menyebabkan potensi energi kelautan menjadi sangat penting untuk dikembangkan. Terutama di Indonesia yang memiliki potensi besar namun masih sangat kecil pengembangan upaya pemanfaatannya. Potensi Jasa Pariwisata Potensi jasa lingkungan pada dasarnya merupakan potensi dari adanya laut itu sendiri, contohnya adalah pariwisata dan transportasi. Potensi wisata berbasis laut atau wisata bahari menjadi komoditas yang mendunia. Inti dari pengelolaan pembangunan wisata bahari adalah dengan mengembangkan dan memanfaatkan objek wisata, baik alam maupun buatan, yang terdapat di pesisir dan lautan. Objek tersebut antara lain berupa kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan ikan hias, bangunan dan struktur pantai, serta sosial budaya masyarakat pesisir. Potensi lainnya yang masih perlu dimanfaatkan secara optimal adalah jasa transportasi atau perhubungan laut, penanaman kabel bawah laut, serta bangunan dan konstruksi laut. Potensi Jasa Transportasi Indonesia telah memberlakukan transportasi cepat, atau dikenal dengan Toll laut, hal ini diupayakan untuk mempercepat jalur distribusi yang cepat dan merata ke seluruh negeri. Teritotial yang luas sangat memungkinkan bagi Indonesia untukmemiliki jalur distribusi atau pelayaran nasional dan Internasional untuk melintasi Indonesia sebagai jalur perdagangan emas. Pemanfaatan jalur perdagangan dunia sangat memungkinkan melewati Indonesia, sehingga pemanfaatan secara maksimal potensi laut Indonesia dapat dimaksimalkan. Please follow and like us Kelas Pintar adalah salah satu partner Kemendikbud yang menyediakan sistem pendukung edukasi di era digital yang menggunakan teknologi terkini untuk membantu murid dan guru dalam menciptakan praktik belajar mengajar terbaik. Related Topicshari lautkekayaan lautkekayaan laut Indonesiapotensi kekayaan laut

Berikutbeberapa contoh dari manfaat sumber daya alam: Untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia dan hewan Salah satu manfaat dari sumber daya alam yang penting ialah sebagai pemenuh kebutuhan pangan manusia juga hewan. Sumber daya alam yang berasal dari hewan dan tumbuhan merupakan sumber daya utama untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. sumber gambar Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar pulau dengan panjang garis pantai kurang lebih km. Di sepanjang garis pantai ini terdapat berbagai potensi sumber daya alam seperti perikanan, perkebunan, pertambangan dsb. Potensi-potensi tersebut perlu dikelola secara terpadu agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Wilayah pesisir secara ekologis merupakan daerah pertemuan antara ekosistem darat dan laut. Ke arah darat meliputi bagian tanah, baik yang kering maupun yang terendam air laut, dan masih dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik laut seperti pasang surut, ombak dan gelombang serta perembesan air perkembangan wilayah pesisir dan sumberdaya laut di Indonesia pada posisi strategis akan menghasilkan keuntungan ekonomi berupa devisa hasil ekspor. Kontribusi yang demikian akan terus berlangsung, apalagi terdapat berbagai aktivitas masyarakat yang tidak sesuai dengan kemampuan dan daya dukung lingkungan, seperti kegiatan perikanan tangkap, budidaya perikanan, dan industri pariwisata yang berbagai aktivitasnya hanya mengejar keuntungan ekonomi semata. Berbagai upaya pemanfaatan harus dilakukan secara terencana dan tepat, agar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan terutama terakomodasinya kesejahteraan masyarakat pesisir. Total potensi lestari dari sumber daya perikanan laut Indonesia diperkirakan mencapai 6,7 juta ton per tahun, masing-masing 4,4 juta ton di perairan teritorial dan perairan nusantara serta 2,3 ton di perairan ZEE sumber Departemen Kelautan dan Perikanan. Sedangkan di kawasan pesisir, selain kaya akan bahan-bahan tambang dan mineral juga berpotensi bagi pengembangan aktivitas industri, pariwisata, pertanian, permukiman, dan lain sebagainya. Seluruh nilai ekonomi potensi sumberdaya pesisir dan laut mencapai 82 milyar dollar AS per tahun. Namun pada kenyataannya, kinerja pembangunan bidang kelautan dan perikanan belumlah optimal, baik ditinjau dari perspektif pendayagunaan potensi yang ada maupun perpektif pembangunan yang berkelanjutan. Ekosistem pesisir dan lautan yang meliputi sekitar 2/3 dari total wilayah teritorial Indonesia dengan kandungan kekayaan alam yang sangat besar, kegiatan ekonominya baru mampu menyumbangkan + 20,06% dari total Produk Domestik Bruto Rohmin 2001 dalam darajati, 2004. Padahal negara-negara lain yang memiliki wilayah dan potensi kelautan yang jauh lebih kecil dari Indonesia seperti Norwegia, Thailand, Philipina, dan Jepang, kegiatan ekonomi kelautannya perikanan, pertambangan dan energi, pariwisata, perhubungan dan komunikasi, serta industri telah memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PDB mereka, yaitu berkisar 25-60% per tahun Dahuri et al, 2008. Ini menunjukan bahwa kontribusi kegiatan ekonomi berbasis kelautan masih kecil dibanding dengan potensi dan peranan sumberdaya pesisir dan lautan yang sedemikian besarnya, pencapaian hasil pembangunan berbasis kelautan masih jauh dari ikan secara masif terjadi di seluruh perairan Indonesia. Pemetaan tingkat penangkapan ikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP menunjukkan kebanyakan status eksploitasi ikan demersal, pelagis besar, dan udang telah mencapai titik maksimum. Penangkapan ikan di beberapa wilayah bahkan masuk zona merah karena melebihi ambang batas yang menyebutkan sejak 2011 Menteri Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan keputusan pemanfaatan ikan yang diperbolehkan maximum sustainable yield/MSY sebesar 80% dari potensi lestari. Potensi lestari sendiri merupakan besaran penangkapan ikan yang masih memberi kesempatan bagi ikan untuk melakukan regenerasi sehingga tidak mengurangi 2011 tercatat penangkapan ikan telah melebihi batas, yakni 82%. Angka tersebut belum termasuk tangkapan ilegal yang ditaksir mencapai 25% dari total potensi sehingga akumulasi pemanfaatan ikan mencapai 107%. Kondisi itu menunjukkan penangkapan ikan telah melampaui MSY sehingga berujung pada terancamnya keberlanjutan stok ikan. Padahal Indonesia memiliki potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia sebesar 6,7 juta ton per tahun tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia ZEEI yang terbagi dalam sembilan wilayah perairan utama Indonesia. Dari seluruh potensi sumber daya tersebut, guna menjaga keberlanjutan stok ikan jumlah tangkapan yang diperbolehkan JTB sebesar 5,12 juta ton per tahun Sekretariat Kabinet, 2016.Volume dan nilai produksi untuk setiap komoditas unggulan perikanan budidaya dari tahun 2010-2014 mengalami kenaikan, terdiri dari 1 Udang mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 14,03%; 2 Kerapu mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 9,61%; 3 Bandeng mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 10,45%; 4 Patin mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 30,73%; 5 Nila mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 19,03%; 6 Ikan Mas mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 14,44%; 7 Lele mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 26,43%; 8 Gurame mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 17,70%; dan 9 Rumput Laut mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 27,72%.Untuk mengatasi berbagai permasalahan dan pemanfaatan potensi yang mucul dalam pengelolaan sumberdaya laut ini, maka dibutuhkan suatu model pengelolaan yang memadukan unsur masyarakat pengguna kelompok nelayan, pengusaha perikanan, dll dan pemerintah yang dikenal dengan Comanagement yang menghindari peran dominan yang berlebihan dari satu pihak dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut sehingga pembiasaan aspirasi pada satu pihak dapat dieliminasi. Melalui model ini, pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut dapat dilaksanakan dengan menyatukan lembaga-lembaga terkait terutama masyarakat dan pemerintah dalam setiap proses pengelolaan sumberdaya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan pengawasan. 1 2 Lihat Money Selengkapnya
Sumberdaya laut. 5. Sumber daya mineral. Sumber daya alam berdasarkan ketersediaannya dapat dikelompokkan. ke dalam dua kelompok, yaitu sebagai berikut. 1. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui atau sumber daya. alam yang akan habis dipakai ( ), mencakup. sumber daya energi dan mineral. 2. Sumber daya alam yang dapat diperbarui atau Saatini, potensi sumber daya alam laut dan pesisir Provinsi Kalimantan Tengah masih belum terekspos secara luas; namun sebagai salah satu provinsi terluas di Indonesia setelah Papua, wilayah laut dan pesisir Provinsi Kalimantan Tengah berpotensi besar untuk memberikan hasil laut dan pesisir yang dapat menyumbangkan pendapatan daerah, Banyakkasus yang terjadi pada kegiatan bioprospeksi ini yaitu sering mengancam keanekaragaman hayati, seperti emisi karbon-dioksida, penebangan tidak teratur, ekstraksi sumber daya alam yang berlebihan tanpa melihat keberlanjutan dan diversitas dari sumberdaya tersebut. Hal ini dapat memberikan dampak yang serius bagi spesies yang terancam punah. Potensisumber daya alam yang dimiliki oleh wilayah Maluku memberikan peluang investasi baik PMA maupun PMDN, mengalami perkembangan yang fluktuatif. Berdasarkan Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, mewajibkan Perseroan ynag bergerak dibidang dan/atau sumber daya alam melaksanakan Tanggung Jawab sosial dan Lingkungan. .
  • cl5km29fmz.pages.dev/299
  • cl5km29fmz.pages.dev/181
  • cl5km29fmz.pages.dev/129
  • cl5km29fmz.pages.dev/290
  • cl5km29fmz.pages.dev/109
  • cl5km29fmz.pages.dev/498
  • cl5km29fmz.pages.dev/77
  • cl5km29fmz.pages.dev/305
  • pemanfaatan potensi sumber daya alam laut dapat memberikan kontribusi bagi