ArusBalik Arus Balik yang berlatarkan sejarah menjadi salah satu karya Pram yang digandrungi. Setebal 760 halaman, novel Pram itu menceritakan kejayaan nusantara di zamannya. Pram tetap menyuarakan persoalan kaum kecil dan tertindas. Sama halnya dalam novel Gadis Pantai, Pram ingin membongkar tradisi feodalisme yang ada dalam budaya Jawa

Thread kali ini akan membahas salah satu novel legendaris Indonesia, kenapa legendaris? karena karya ini di buat oleh salah satu novelis terbesar di negara ini, Pramoedya Ananta Toer. Apakah teman-teman mengenal sosok ini? Beliau adalah sosok Masterpiece dalam bidang seni dan budaya terutama novel. berapa hasil karyanya seperti Tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Gadis Pantai, dll. Keterlibatan Pram di organisasi Lekra Lembaga Kebudayaan Rakyat membuat dirinya pernah di penjara di Pulau Buru, bahkan beberapa bukunya pernah Kali ini Gua sendiri akan meresensi bukunya yang berjudul Arus Balik, yang sebernanya merupakan Tetralogi 4 novel lainya Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan satu naskah yang masih hilang. Novel ini mengisahkan sebuah arus yang berbalik, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit 1478 M membuat Nusantara yang dahulunya merupakan mercusuar dari Selatan dan membawa arus ke arah Utara, akhirnya harus menerima kenyataaan bahwa arus telah berbalik. Hingga pada akhirnya Indonesia dan sekitarnya Nusantara saat itu harus menerima kenyataan sekian abad lamanya terjajah. Kemahiran Pram, mengisahkan suasana yang terjadi saat itu dengan gaya cerita, membuat kita akan sangat mudah mengetahui kebudayaan, pola pikir, perjuangan masyarakat Nusantara saat itu. Karena itulah, Gua akan membahas sekilas Novel tersebut dalam resensi kali ini, Oke selamat membaca.... Arus Balik Nusantara menjadi saksi bisu, kehebatan kerajaan besar penguasa arus selatan hingga mampu menerjang penguasa kerajaan utara. Majapahit, menjadi kekuatan maritim terbesar pada abad nya 1350 - 1389 M, mengusai hampir seluruh bagian dari negara Indonesia saat ini, hingga Singapura Tumasik, Malaysia Malaya, dan beberapa negera ASEAN lainya. Tapi, itu hanya kisah dongeng masa lalu bagi masyarakat desa saat itu. Kerajaan Majapahit sudahlah hancur dalam perang saudara tak berkesudahan, wafatnya sang Mahapatih Gajah Mada menjadi titik awal, kemudian berturut-turut peristiwa menggrogoti kerajaan ini, dan akhirnya lenyap setelah kedatangan agama Islam. Setelah itu Arus pun berbalik, kerajaan-kerajaan yang dahulunya berada dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri. Para keturunan bangsawan Majapahit pun lebih memilih berkonsentrasi kepada kekusaaan yang tersisa, termasuk Raja Tuban Wilwatika. Tidak seperti nenek moyangnya, Wilwatika tidaklah berhasrat untuk menguasai atau memperluas kekuasaanya,"Perdamaian jauh lebih berarti buat rakyat, ucapnya. Tapi, hidupnya akan berubah drastis bukan saja bergeraknya arus dari eksternal kedatangan Portugis dan internal munculnya Demak, namun yang lebih penting munculnya sosok Galeng pemuda desa yang muncul dalam hingar bingar arus tersebut. Galeng adalah pemuda desa yang memiliki ketangkasan, kecerdasaan, dan keberanian dibandingkan pemuda lain. Kemampuan nya itu pun di tambah selama masih tinggal di desa, dia sering mendengar "ocehan" dari Rama Cluring yang katanya pernah merasakan kehebatan Majapahit. Kemampuan fisik disertai luasnya wawasan, menjadi modal penting Galeng untuk masuk sebagai pemeran dalam arus balik Nusantara saat itu. Hasilnya babak itu di mulai saat Galeng menghadiri kejuaraan di Tuban bersama kekasihnya Idayu. Kemenengan Galeng sebagai juara dalam kejuaran itu menjadi titik awal pergulatan pemuda desa itu. Munculnya konflik seperti pengkhianatan, kehidupan feodal, munculnya para "penjilat", menambah konflik dalam kerajaan Tuban. Kedatangan Portugis menguasai Kerajaan Malaka menjadi babak awal Galeng sebagai duta Tuban dalam peperangan merebut Malaka, yang di pimpin oleh Adipati Unus Laksamana Demak, walau akhirnya pasukan Nusantara kalah karena belum bersatunya pasukan kerajaan tersebut. Selain kisah peperangan, dalam novel ini Pram pun mengisahkan bagaimana akulturasi budaya masyarakat Jawa yang dahulunya Hindu-Buddha menjadi Islam. Walau peran Wali Songo tidak terlalu ditonjolkan tapi sosok Muhammad Firman Pada menjadi rujukan bagaimana Islam mulai masuk ke masyarakat Jawa. Muncullah drama di sini, bagaimana Firman berperang melawan budaya Hindu -Buddha yang masih kental saat itu. Akhirnya sangat sedikit dari masyrakat jawa pedalaman yang me ameluk agama Islam. Sosok Firman ini menjadi sosok penting karena merupakan Musafir yang langsung diutus oleh Sunan Bonan untuk menyebarkan agama Islam. Namun, setelah wafatnya Adipati Unus dan digantikan Raden Trenggono mengubah arus politik Demak. Arus yang tadinya mengarah ke peperangan terhadap Portugis Peranggi berubah setahap demi setahap ke arah perluasan wilayah oleh Raden Trenggono. Hal yang menggugurkan cita-cita Adipati Unus. Pram pun menyungguhkan, bagaimana bangsa-bangsa Nusantara saat itu bisa berkerja sama dengan pasukan Portugal Peranggi. Mulai dari Kerajaan Blambangan dan para pasukan pemberontak Ki Aji Benggala, membuat kita mengetahui cara para penjajah setahap demi setahap mendapat peluang untuk menaklukan Nusantara. Tapi disini, kemampuan Galeng sebagai tokoh Protagonis akhirnya muncul dan daya karismanya mengalahkan aura Raja Walwatika. Akhirnya peperangan demi peperangan pun bermunculan di tanah Jawa, pulau yang tenang itu berubah menjadi daerah peperangan. Galeng, nantinya menjadi Wiragaleng akhirnya menjadi tokoh yang ditunggu untuk mengusir penjajah, menghentikan peperangan saudara, mempersatukan Nusantara layaknya Gajah Mada. Tapi, seperti kata Pram bahwa Arus saat itu sudah berbalik, apakah Galeng mampu membalikan arus itu seperti dahulu kala? Atau tentu Arus -nya tetap Balik? Novel Arus Balik ini katanya merupakan karya terbaik dari Pramoedya Ananta Toer selain novel-novel ciptaanya. Tapi, kehebatan Pram menyajikan realisme sosial dalam kisah novel tentulah menjadi kekuatanya. Hal inilah yang membuat Pram bahkan bisa dibandingkan Bahkan lebih dengan pencipta Harry Potter, Dan Brown Da Vnci Code, dll. Tapi, diskriminasi terhadap Pram membuat karya-karya nya tidak pernah muncul. Padahal, sajian Novel Pram merupakan "Real" yang terjadi pada masyarakat. Mungkin Pram benar, sekarang Arus telah berbalik.... Resensi/ Sinopsis / Review Novel " PUSARAN ARUS WAKTU ". PUSARAN ARUS WAKTU. Penerbit: Tiga Serangkai, Agustus 2007. Penulis: Gola Gong. Namaku Lazuardi. Aku mempunyai empat sahabat; Boy, Dini, Rizal, dan Ery. Kami adalah sekelompok anak-anak yang sudah dikarunia kehormatan ketika lahir, tapi haus akan kasih sayang orang tua. Terutama seorang Ibu. FilterBukuNovel & SastraBuku ImportMasukkan Kata KunciTekan enter untuk tambah kata 65 produk untuk "novel arus balik" 1 - 60 dari 65UrutkanAdpaket novel tetralogi pramoedya ananta toer-bumi manusia,arus claiy-ingAdNOVEL TERE LIYE SEPOTONG HATI YANG BantulPustaka Baru Press 3AdRAPIJALI DEE 3%Jakarta SelatanMillennia 100+AdNovel Tere Liye Buku 16AdTerlarisSelamat Tinggal Pre Order Tere TimurGramedia Official 750+Buku novel Arus Balik Pramoedya Ananta 9Terpopuler Novel Arus Balik By Pramoedya Ananta TimurHesty MeutyatikaNovel Arus Balik, Arok Dedes Pramoedya Ananta Toer, LamonganBuku PaganNovel Sastra ARUS BALIK. Pengarang Pramoedya Ananta BaratklikbukubekasNovel ARUS BALIK [ADA TTD] PRAMOEDYA ANANTA TOER Original Buku
Jauhtangéh ka lebaran, pamaréntah dina hal ieu kementrian perhubungan, tihothat nataharkeun arus mudik sangkan lungsur-langsar saréréa. Angkutan darat, laut, jeung udara ditataharkeun ti anggalna sangkan nyumponan bubutuh anu mudik. Malah pausahaan-pausahaan badag ogé loba anu milu nyarumbang nyadiakeun angkutan lebaran keur nu mudik.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. [caption id="attachment_164565" align="alignright" width="300" caption="Sampul Arok Dedes"][/caption] Judul Arok Dedes Penulis Pramoedya Ananta Toer Isi xiv + 561 halaman Penerbit Lentera Dipantara ISBN 978 – 979 – 3820 – 14 – 9 Cetakan Juli 2009 Harga Rp. Membuka lagi buku Arok Dedes ini membuat saya ingin menuliskan resensinya. Buku lama memang, tapi roman politik ini saya rasa tidak jauh beda dengan semangat politisikita saat ini. Semangat perebutan kekuasaan. Buku ini sebenarnya merupakan buku pertama dari tetralogi “Arok Dedes”, buku berikutnya adalah Mata Pusaran, Arus Balik dan MangirDrama. Tidak berlebihan bila buku karya Pramoedya Ananta Toer ini disebut sebagai salah satu sumbangan Indonesia untuk dunia. Siapa tak kenal Pram? kandidat Asia paling utama untuk Hadiah Nobel. Penulis kontroversial kelahiran Blora, Jawa Tengah pada tahun 1925 yang menghabiskan hampir separoh hidupnya dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat. Arok Dedes adalah roman politik yang komplek dengan latar pedalaman sejarah kerajaan Jawa. Berkisah tentang kudeta pertama di Nusantara. Kudeta ala Jawa. Kudeta licik tapi cerdik. Berdarah tapi pembunuh sejatinya bertepuk dada menikmati penghormatan yang tinggi. Melibatkan gerakan militer, menyebarkan prasangka dari dalam, memperhadapkan antar kawan, dan memanasi perkubuan. Aktor-aktornya bekerja seperti hantu. Kalaupun gerakan diketahui, namun tiada bukti yang sahih bagi penguasa untuk menyingkirkannya. Arok adalah simpul dari gabungan antara mesin paramiliter licik dan politisi sipil yang cerdik rakus dari kalangan sudra/agrari yang merangkakkan nasib menjadi panguasa tunggal tanah jawa. Arok tak mesti memperlihatkan tangannya yang berlumur darah mengiringi kejatuhan Ametung di Bilik Agung Tumapel, karena politik tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik adalah permainan catur diatas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegangan melempar umpan-umpan untuk mendapat peruntungan besar. Tak ada kawan dan lawan. Yang ada hanya tahta dimana seluruh hasrat bisa diletupkan sejadi-jadi yang dimau. Yang menarik dari roman ini adalah kecerdasan penulis dalam mengangkat kompleksitas permasalahan dengan lancar, mengalir dan membangun suasana. Dimulai dari latar belakang Arok, seorang sudra yang tidak jelas asal usulnya namun menjelma jadi seorang Ksatria dan Brahmana sekaligus. Arok juga merupakan perpaduan yang unik antara penganut Shiwa, Wisnu dan Budha, karena dalam perjalanan hidupnya dia belajar dari beberapa guru yang berbeda keyakinan. Keterlibatan kaum beragama dalam perebutan kekuasaan juga diulas dengan halus dan mengalir dalam cerita ini. Keberadaan Belakangka sebagai wakil Kerajaan Kediri di Pakuwuan Tumapel menunjukkan ambisi dan pengaruh kaum bangsawan. Restu dari kaum Brahmana yang didapat Arok dalam menggulingkan sang akuwu, serta kehidupan keseharian para Brahmana adalah buktibagaimana kearifan sekaligus ambisi kaum agama diperlihatkan. Nuansa feodal jawa yang begitu kental pun tak terbantahkan. Pola komunikasi antar kasta yang sangat diskriminatif bahkan terlihat sejak dari panggilan seperti Yang Mulia, Yang Suci. Belum lagi perlakuan terhadap kaum sudra, ironi kehidupan para budak yang harus dikenali lewat tapas dikepala, sampai pada nasib jejaro-jejaro yang harus dipotong lidahnya demi menjaga rahasia. Masih banyak lagi fakta-fakta miris berkaitan dengan feodalisme jawa diperlihatkan,kebiasaan yang sampai saat ini masih jadi kebanggaan bagi sebagian orang. Pemanfaatan perempuan dalam perebutan kekuasaan juga merupakan cerita yang menarik danmenentukan, dimana Arok berhasil memanfaatkan Dedes sebagai umpan dan tahta pun didapat dengan gemilang, tanpa cacat. Cerita ini ditutup dengan unik, selain mendapatkan tahta Tumapel, Arok juga menyatukan antara penganut Wisnu dan Shiwa dalam satu kekuasaan. Umang, istri pertama Arok adalah seorang Wisnu dan Dedes, istri kedua Arok adalah murni darah Brahmani Shiwa. Lihat Catatan Selengkapnya
ResensiNovel Orang Orang Proyek Karya Ahmad Tohari. Judul : Orang Orang Proyek Novel ini menceritakankehidupan tokoh utama yaitu Karman secara flashback atau kilas balik. , hidup tanpa ayahnya danh arus banting tulangbekerja menjadi pembantu dan pengasuh anak Haji Bakir, tetangganya, orang terkaya dan terpandang di desa Pegaten. Karman

Resensi Novel Arus Balik Pramoedya Ananta Toer Rizky kusumo 6 years ago resensi, Thread kali ini akan membahas salah satu novel legendaris Indonesia, kenapa legendaris? karena karya ini di buat oleh salah satu novelis terbesar di negara ini, Pramoedya Ananta Toer. Apakah teman-teman mengenal sosok ini? Beliau adalah sosok Masterpiece dalam bidang seni dan budaya terutama novel. berapa hasil karyanya seperti Tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Gadis Pantai, dll. Keterlibatan Pram di organisasi Lekra Lembaga Kebudayaan Rakyat membuat dirinya pernah di penjara di Pulau Buru, bahkan beberapa bukunya pernah Kali ini Gua sendiri akan meresensi bukunya yang berjudul Arus Balik, yang sebernanya merupakan Tetralogi 4 novel lainya Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan satu naskah yang masih hilang. Novel ini mengisahkan sebuah arus yang berbalik, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit 1478 M membuat Nusantara yang dahulunya merupakan mercusuar dari Selatan dan membawa arus ke arah Utara, akhirnya harus menerima kenyataaan bahwa arus telah berbalik. Hingga pada akhirnya Indonesia dan sekitarnya Nusantara saat itu harus menerima kenyataan sekian abad lamanya terjajah. Kemahiran Pram, mengisahkan suasana yang terjadi saat itu dengan gaya cerita, membuat kita akan sangat mudah mengetahui kebudayaan, pola pikir, perjuangan masyarakat Nusantara saat itu. Karena itulah, Gua akan membahas sekilas Novel tersebut dalam resensi kali ini, Oke selamat membaca.... Arus Balik Nusantara menjadi saksi bisu, kehebatan kerajaan besar penguasa arus selatan hingga mampu menerjang penguasa kerajaan utara. Majapahit, menjadi kekuatan maritim terbesar pada abad nya 1350 - 1389 M, mengusai hampir seluruh bagian dari negara Indonesia saat ini, hingga Singapura Tumasik, Malaysia Malaya, dan beberapa negera ASEAN lainya. Tapi, itu hanya kisah dongeng masa lalu bagi masyarakat desa saat itu. Kerajaan Majapahit sudahlah hancur dalam perang saudara tak berkesudahan, wafatnya sang Mahapatih Gajah Mada menjadi titik awal, kemudian berturut-turut peristiwa menggrogoti kerajaan ini, dan akhirnya lenyap setelah kedatangan agama Islam. Setelah itu Arus pun berbalik, kerajaan-kerajaan yang dahulunya berada dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri. Para keturunan bangsawan Majapahit pun lebih memilih berkonsentrasi kepada kekusaaan yang tersisa, termasuk Raja Tuban Wilwatika. Tidak seperti nenek moyangnya, Wilwatika tidaklah berhasrat untuk menguasai atau memperluas kekuasaanya,"Perdamaian jauh lebih berarti buat rakyat, ucapnya. Tapi, hidupnya akan berubah drastis bukan saja bergeraknya arus dari eksternal kedatangan Portugis dan internal munculnya Demak, namun yang lebih penting munculnya sosok Galeng pemuda desa yang muncul dalam hingar bingar arus adalah pemuda desa yang memiliki ketangkasan, kecerdasaan, dan keberanian dibandingkan pemuda lain. Kemampuan nya itu pun di tambah selama masih tinggal di desa, dia sering mendengar "ocehan" dari Rama Cluring yang katanya pernah merasakan kehebatan Majapahit. Kemampuan fisik disertai luasnya wawasan, menjadi modal penting Galeng untuk masuk sebagai pemeran dalam arus balik Nusantara saat itu. Hasilnya babak itu di mulai saat Galeng menghadiri kejuaraan di Tuban bersama kekasihnya Idayu. Kemenengan Galeng sebagai juara dalam kejuaran itu menjadi titik awal pergulatan pemuda desa itu. Munculnya konflik seperti pengkhianatan, kehidupan feodal, munculnya para "penjilat", menambah konflik dalam kerajaan Tuban. Kedatangan Portugis menguasai Kerajaan Malaka menjadi babak awal Galeng sebagai duta Tuban dalam peperangan merebut Malaka, yang di pimpin oleh Adipati Unus Laksamana Demak, walau akhirnya pasukan Nusantara kalah karena belum bersatunya pasukan kerajaan tersebut. Selain kisah peperangan, dalam novel ini Pram pun mengisahkan bagaimana akulturasi budaya masyarakat Jawa yang dahulunya Hindu-Buddha menjadi Islam. Walau peran Wali Songo tidak terlalu ditonjolkan tapi sosok Muhammad Firman Pada menjadi rujukan bagaimana Islam mulai masuk ke masyarakat Jawa. Muncullah drama di sini, bagaimana Firman berperang melawan budaya Hindu -Buddha yang masih kental saat itu. Akhirnya sangat sedikit dari masyrakat jawa pedalaman yang me ameluk agama Islam. Sosok Firman ini menjadi sosok penting karena merupakan Musafir yang langsung diutus oleh Sunan Bonan untuk menyebarkan agama Islam. Namun, setelah wafatnya Adipati Unus dan digantikan Raden Trenggono mengubah arus politik Demak. Arus yang tadinya mengarah ke peperangan terhadap Portugis Peranggi berubah setahap demi setahap ke arah perluasan wilayah oleh Raden Trenggono. Hal yang menggugurkan cita-cita Adipati Unus. Pram pun menyungguhkan, bagaimana bangsa-bangsa Nusantara saat itu bisa berkerja sama dengan pasukan Portugal Peranggi. Mulai dari Kerajaan Blambangan dan para pasukan pemberontak Ki Aji Benggala, membuat kita mengetahui cara para penjajah setahap demi setahap mendapat peluang untuk menaklukan Nusantara. Tapi disini, kemampuan Galeng sebagai tokoh Protagonis akhirnya muncul dan daya karismanya mengalahkan aura Raja Walwatika. Akhirnya peperangan demi peperangan pun bermunculan di tanah Jawa, pulau yang tenang itu berubah menjadi daerah peperangan. Galeng, nantinya menjadi Wiragaleng akhirnya menjadi tokoh yang ditunggu untuk mengusir penjajah, menghentikan peperangan saudara, mempersatukan Nusantara layaknya Gajah Mada. Tapi, seperti kata Pram bahwa Arus saat itu sudah berbalik, apakah Galeng mampu membalikan arus itu seperti dahulu kala? Atau tentu Arus -nya tetap Balik? Novel Arus Balik ini katanya merupakan karya terbaik dari Pramoedya Ananta Toer selain novel-novel ciptaanya. Tapi, kehebatan Pram menyajikan realisme sosial dalam kisah novel tentulah menjadi kekuatanya. Hal inilah yang membuat Pram bahkan bisa dibandingkan Bahkan lebih dengan pencipta Harry Potter, Dan Brown Da Vnci Code, dll. Tapi, diskriminasi terhadap Pram membuat karya-karya nya tidak pernah muncul. Padahal, sajian Novel Pram merupakan "Real" yang terjadi pada masyarakat. Mungkin Pram benar, sekarang Arus telah berbalik..

9 Contoh Resensi Buku, Fiksi, Non Fiksi, Novel, Cerpen, Film, Ilmiah, Pengetahuan, Cerita dll. by Arifin Saddoen. Contoh Resensi Buku - Apakah Anda pernah mendengar kata resensi?, memang benar jika kata resensi adalah kata yang sangat serig kita dengar namun banyak juga orang yang belum paham apa itu resensi sehingga banyak yang kebingungan Identitas BukuJudul Arus BalikPenulis Pramoedya Ananta ToerPenerbit Hasta MitraTerbit Pertama, Agustus 1995Jumlah hlm. ebook 1196 hlmFormat .pdfUkuran kbResensi EbookSeperti biasa Pramoedya selalu menyentak’ para pembaca dengan karya-karyanya yang legendaris. Arus Balik menjadi satu contoh bagaimana ia bercerita tentang sejarah nusantara yang pernah berjaya sebagai peradaban maju diantara negeri-negeri di dunia lewat kejayaan Majapahit. Lewat jalur kemaritiman lah Majapahit dapat bercerita bagaimana sebuah kejayaan atas negeri Atas Angin dapat dikuasai dengan tersebarnya pengaruh, citra, budaya, dan perdagangan. Hal ini digambarkan oleh Pram dengan arus yang bergerak dari penjuru selatan Nusantara ke arah utara Atas Angin. Hal ini terus berlangsung ketika Majapahit dapat menguasai perairan nusantara dengan kegagahan armada maritimnya yang dipersenjatai cetbang yang terkenal kemahsyurannya serta kesatuan nusantara atas sumpah palapa yang terkenal dari mahapatih gajah madanya. Namun segala kejayaan tersebut perlahan runtuh ketika majapahit hancur karena kerusakan dari pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di dalamnya. Hal ini menyebabkan kemerosotan hingga memutar balikan keadaan nusantara menjadi alas kaki negeri atas angin. Hal ini digambarkan oleh Pram dengan berubahnya arus dari selatan ke utara menjadi utara ke novel sejarah ini kita diajak menyelami bagaimana kesusahan yang terjadi ketika nusantara terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kerdil dan kapal-kapal majapahit yang mahsyur karena megahnya ikut mengecil mengikuti mengerdilnya kerajaan-kerajaan yang ada. Pembaca pada awal mula dibawa menuju pedalaman Tuban yang menjadi tempat utama berjalannya cerita Arus Balik seorang bijak bernama Rama Cluring yang berkelana berkeliling desa untuk bercerita tentang kemahsyuran Majapahit dengan kapal-kapalnya serta cerita arus selatan-utara mendatangi sebuah desa bernama Awis Krambil. Dalam ceritanya ia mengutuk tentang perpecahan yang menjadikan Majapahit runtuh dan berbaliknya arus menjadi selatan-utara. Karena pengaruh kekuasaan Tuban dan ketakutan penduduk desa akan prajurit-prajurit Tuban, cerita Rama Cluring dianggap mereka sebagai satu malapetaka yang akan membuat desa mereka dihancurkan oleh para prajurit Tuban. Maka Rama Cluring dikucilkan oleh penduduk desa dan diusirnya dari desa Awis Krambil. Namun ada sepasang muda yang setia mendengarkan Rama Cluring, mereka adalah Galeng dan Idayu, yang kelak akan menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Galeng adalah pemuda desa yang ahli dalam bergulat, bahkan telah memenangi kejuaran gulat yang diadakan kerajaan Tuban. Idayu tak kalah hebat, ia adalah pemegang juara bertahan penari seantero Tuban, konon tak ada yang bisa mengalahkannya dalam hal menari maupun kecantikan, seantero Tuban!Singkat cerita Galeng dan Idayu kembali mengikuti kejuaraan gulat dan tari di Tuban mewakili desa Awis Krambil. Kemenangan ditangan mereka dan mereka dihadiahi pernikahan mewah oleh kerajaan Tuban. Sekaligus Galeng diterima sebagai pegawai kerajaan Tuban untuk mengurusi adipati diamanahi sebagai syahbandar-muda membantu Thalib Sungkar Az-Zubaid, peranakan Moro, Syahbandar Tuban menggantikan Rangga Iskak. Rangga Iskak kelak setelah terusir dari Tuban menjadi Kiai Benggala atau Sunan Rajeg, pemberontak Tuban yang berambisi membalas dendamnya pada Tuban karena telah mengusirnya dari Kesyahbandaran. Idayu mengikuti suaminya tinggal dalam Kesyahbandaran bersama syahbandar Tuban. Pada cerita ketika Galeng meninggalkan idayu untuk menumpas pemberontakan oleh Sunan Rajeg, syahbandar Tuban, Thalib Sungkar Az-Zubaid, membius idayu dan menyetubuhinya hingga Idayu mengandung. Hal ini diketahui Galeng dan membuat Idayu hina diri hingga meminta suaminya untuk membunuh ia dan bayi yang lahir dari rahimnya. Namun karena cinta Galeng pada Idayu akhirnya ia tidak membunuh istrinya melainkan merawat anak itu hingga Galeng sedang berusaha menumpas pemberontakan Sunan Rajeg, terjadi kegaduhan yang menyebabkan ia membunuh Senapati Tuban dan mengikrarkan dirinya sebagai Senapati Tuban yang baru. Atas kecerdikannya dalam berperang melawan pemberontak Sunan Rajeg akhirnya ia dapat menumpas pemberontakan download ebook gratisnya DI SINIDownload ebook gratis dan selamat menikmati kawan. Ini hanyalah review, belilah buku aslinya dan nikmati karya penulisnya dengan cerdas. Terima kasih sudah gambar dan kutipan
  1. Յожθξуπе бухуւи иሣуቭошир
  2. Уվ ሧυмиን еχулуλիዉи
    1. Οሣарсечሥ осиልоልኗ νեςሆж
    2. ለоգэпокու իлեճи νентօсէшеπ ωրоσеμаγ
Sementaraitu, karya sastra motivasi menggambarkan perjuangan tokoh yang secara ekonomi tidak berdaya, tetapi kemudian meraih kesuksesan. Novel-novel itu sukses, terjual dengan jumlah fantastis. Fenomena tersebut oleh Okky dihubungkan dengan diskusus dominan sastra populer tahun 1980-an yang mendapat dukungan penerbit besar dan kekuasaan.

Penulis Pramoedya Ananta Toer Penerbit Hasta Mitra Cetakan I, Agustus 1995 Tebal 760 halaman ISBN 979-8659-04-x Seperti biasa Pramoedya selalu menyentak’ para pembaca dengan karya-karyanya yang legendaris. Arus Balik menjadi satu contoh bagaimana ia bercerita tentang sejarah nusantara yang pernah berjaya sebagai peradaban maju diantara negeri-negeri di dunia lewat kejayaan Majapahit. Lewat jalur kemaritiman lah Majapahit dapat bercerita bagaimana sebuah kejayaan atas negeri Atas Angin dapat dikuasai dengan tersebarnya pengaruh, citra, budaya, dan perdagangan. Hal ini digambarkan oleh Pram dengan arus yang bergerak dari penjuru selatan Nusantara ke arah utara Atas Angin. Hal ini terus berlangsung ketika Majapahit dapat menguasai perairan nusantara dengan kegagahan armada maritimnya yang dipersenjatai cetbang yang terkenal kemahsyurannya serta kesatuan nusantara atas sumpah palapa yang terkenal dari mahapatih gajah madanya. Namun segala kejayaan tersebut perlahan runtuh ketika majapahit hancur karena kerusakan dari pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di dalamnya. Hal ini menyebabkan kemerosotan hingga memutar balikan keadaan nusantara menjadi alas kaki negeri atas angin. Hal ini digambarkan oleh Pram dengan berubahnya arus dari selatan ke utara menjadi utara ke selatan. Dalam novel sejarah ini kita diajak menyelami bagaimana kesusahan yang terjadi ketika nusantara terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kerdil dan kapal-kapal majapahit yang mahsyur karena megahnya ikut mengecil mengikuti mengerdilnya kerajaan-kerajaan yang ada. Pembaca pada awal mula dibawa menuju pedalaman Tuban yang menjadi tempat utama berjalannya cerita Arus Balik ini. Dikisahkan seorang bijak bernama Rama Cluring yang berkelana berkeliling desa untuk bercerita tentang kemahsyuran Majapahit dengan kapal-kapalnya serta cerita arus selatan-utara mendatangi sebuah desa bernama Awis Krambil. Dalam ceritanya ia mengutuk tentang perpecahan yang menjadikan Majapahit runtuh dan berbaliknya arus menjadi selatan-utara. Karena pengaruh kekuasaan Tuban dan ketakutan penduduk desa akan prajurit-prajurit Tuban, cerita Rama Cluring dianggap mereka sebagai satu malapetaka yang akan membuat desa mereka dihancurkan oleh para prajurit Tuban. Maka Rama Cluring dikucilkan oleh penduduk desa dan diusirnya dari desa Awis Krambil. Namun ada sepasang muda yang setia mendengarkan Rama Cluring, mereka adalah Galeng dan Idayu, yang kelak akan menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Galeng adalah pemuda desa yang ahli dalam bergulat, bahkan telah memenangi kejuaran gulat yang diadakan kerajaan Tuban. Idayu tak kalah hebat, ia adalah pemegang juara bertahan penari seantero Tuban, konon tak ada yang bisa mengalahkannya dalam hal menari maupun kecantikan, seantero Tuban! Singkat cerita Galeng dan Idayu kembali mengikuti kejuaraan gulat dan tari di Tuban mewakili desa Awis Krambil. Kemenangan ditangan mereka dan mereka dihadiahi pernikahan mewah oleh kerajaan Tuban. Sekaligus Galeng diterima sebagai pegawai kerajaan Tuban untuk mengurusi adipati Tuban. Galeng diamanahi sebagai syahbandar-muda membantu Thalib Sungkar Az-Zubaid, peranakan Moro, Syahbandar Tuban menggantikan Rangga Iskak. Rangga Iskak kelak setelah terusir dari Tuban menjadi Kiai Benggala atau Sunan Rajeg, pemberontak Tuban yang berambisi membalas dendamnya pada Tuban karena telah mengusirnya dari Kesyahbandaran. Idayu mengikuti suaminya tinggal dalam Kesyahbandaran bersama syahbandar Tuban. Pada cerita ketika Galeng meninggalkan idayu untuk menumpas pemberontakan oleh Sunan Rajeg, syahbandar Tuban, Thalib Sungkar Az-Zubaid, membius idayu dan menyetubuhinya hingga Idayu mengandung. Hal ini diketahui Galeng dan membuat Idayu hina diri hingga meminta suaminya untuk membunuh ia dan bayi yang lahir dari rahimnya. Namun karena cinta Galeng pada Idayu akhirnya ia tidak membunuh istrinya melainkan merawat anak itu hingga besar. Ketika Galeng sedang berusaha menumpas pemberontakan Sunan Rajeg, terjadi kegaduhan yang menyebabkan ia membunuh Senapati Tuban dan mengikrarkan dirinya sebagai Senapati Tuban yang baru. Atas kecerdikannya dalam berperang melawan pemberontak Sunan Rajeg akhirnya ia dapat menumpas pemberontakan tersebut. Sebelumnya terjadi peristiwa bahwa Malaka telah berhasil direbut oleh Peranggi, negeri atas angin yang berambisi menguasai dunia. Peranggi mahsyur dan terkenal karena kapal-kapalnya serta senjata yang mereka punyai yaitu meriam. Diceritakan cetbang yang membawa Majapahit pada kemahsyuran pun berlutut pada meriam milik Peranggi. Karena keserakahan dan ancaman Peranggi terhadap Nusantara akhirnya dari kerajaan Demak melalui musafir-musafirnya menyiarkan kabar untuk persatuan Nusantara dalam melawan Malaka. Adipati Unus Jepara lah yang bermaksud untuk mengusir Peranggi dari Malaka, dari Nusantara. Usaha pertamanya mengalami kegagalan karena meriam Peranggi dan yang paling utama berkhianatnya Adipati Tuban kepada Demak dengan telat mengirim pasukannya saat menggempur Malaka. Hal ini menyebabkan Adipati Unus Jepara luka parah terkena serpihan cetbangnya sendiri. Singkat cerita Adipati Demak, Adipati Patah meninggal dunia dan digantikan oleh Adipati Unus Jepara. Masih dalam pendiriannya bahwa untuk memperbaiki Nusantara satu-satu jalan adalah menghalau Peranggi dari Malaka ia menyerukan seluruh kerajaan di Nusantara untuk bersatu melawan Peranggi. Ia dirikan galangan besar di Jepara untuk menghasilkan kapal-kapal perang besar. Kurang lebih 70 buah kapal perang yang disiapkan untuk menghalau Peranggi dari Malaka. Naas sebelum hal itu terwujud, Adipati Unus wafat dibunuh oleh saudara kandungnya sendiri Sultan Trenggono. Sultan Trenggono lebih bernafsu untuk menguasai Jawa daripada menghalau Peranggi dari Malaka. Maka seluruh kekuatan yang telah dibangun pada zaman Adipati Unus dialihkan untuk menguasai Jawa dengan bantuan Sultan Fatahillah, pangeran Pasai yang terbuang ketika Pasai jatuh ketangan Peranggi. Karena kerakusan ini Demak tidak lagi dipercaya oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara dan bantuan dari mereka tak lagi datang pada kerajaan Demak. Ditambah lagi pengkhianatan Demak terhadap gabungan pasukan Aceh-Tuban-Makasar yang sudah berjalan menuju Malaka. Saat itu Demak malah berbelok untuk menguasai Pajajaran dan Sunda Kelapa yang ada di Jawa sebelah Barat. Dalam kisahnya Sultan Fatahillah yang berhasil menguasai Sunda Kelapa dan menghalau Peranggi dari sana menamai daerah tersebut menjadi Jayakarta. Demak semakin mendesak Jawa dan mulai mengarah ke Timur Jawa. Tuban menjadi target utama karena pada saat itu Tuban menjadi bandar besar yang penting pada pelayaran di Jawa Timur. Maka penyerangan dilaksanakan, Demak berhasil menguasai Tuban dan Adipati Tuban wafat tepat sebelum Demak menguasai Tuban. Hanya dalam beberapa hari Tuban mampu membalikan keadaan melalui Patihnya. Namun disaat Tuban telah kelelahan menghalau Demak dari daerah kekuasaannya, Peranggi datang dan mengusir Tuban hingga pergi dari tanahnya sendiri. Disaat inilah Galeng yang telah dianugerahi gelar Senapati Wiranggaleng melancarkan serangan balasan dengan siasat baru yang belum pernah dilakukan selama peperangan yang ada di Jawa, menyerang ketika malam hari. Penyerangan itu sukses dan Tuban kembali di tangan kerajaan Tuban. Hal ini menjadi kemenangan bagi penduduk serta prajurit Tuban. Tuban yang dalam keadaan kekosongan kekuasaan menginginkan Senapati Wiranggaleng menjadi Adipati Tuban, namun dia menolak. Lalu ia mengucapkan kata-kata mahsyur yang ia dapat dari gurunya Rama Cluring. “Dahulu, di jaman kerajaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini. Kapal-kapalnya, muatannya, manusianya, amal dan perbuatannya, cita-citanya-semua, itulah arus selatan ke utara. Segala-galanya datang dari selatan. Majapahit jatuh. Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan, dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita akan semakin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.” Karena kesadaran akan ketidak-mampuanya ia hanya menitipkan pesan tersebut kepada para kepala prajurit Tuban. Ia menyangsikan bahwa kemenangan Tuban mengusir Peranggi bukanlah sebuah kemenangan yang sesungguhnya. Namun mengusir Peranggi dari Malaka, dari Nusantara adalah sebuah kemenangan yang sesungguhnya dan ia tidak menyanggupi hal tersebut. Ia menekankan hal tersebut kepada para kepala prajuritnya, dan jika hal itu tidak tercapai selamanya Nusantara akan berada dalam kuasa negeri Atas Angin tersebut. Wiranggaleng pergi ke pedalaman bersama istrinya Idayu serta anak aslinya Kumbang. Ia menjadi sesuatu yang diimpikan bersama istrinya selama ini, petani yang tenang menjalani hidup apa adanya tanpa ada kegusaran akan dunia. Namun pada lubuk hatinya, Galeng tetap menyimpan perasaan tidak nyaman akan keberadaan Peranggi di Nusantara dan pengusiran dari Malaka adalah suatu hal yang harus. Arus Balik mengajari kita bagaimana kekuatan maritim adalah kunci utama Nusantara dapat berjaya, membawa arus selatan ke utara. Persatuan Nusantara dalam satu bendera juga menjadi hal mutlak untuk mewujudkan hal tersebut. Keserakahan Sultan Trenggono untuk menguasai Jawa adalah pelajaran bahwa keserakahan malah akan membikin kehancuran pada diri sendiri. Pram menyajikan novelnya sungguh baik, hampir lengkap bahkan. Dengan detil cerita serta konflik antar tokoh yang membuat rasa penasaran terus membuncah, serta bumbu-bumbu pengkhianatan hingga cinta yang ada membuat Arus Balik tidak hanya menjadi Novel Sejarah Nusantara namun menjadi satu Novel yang menceritakan bagaimana kehidupan pada zaman itu. Adat-adat setempat yang ada serta masuknya pengaruh agama baru dalam tatanan masyarakat disajikan dengan rapih. Arus Balik menceritakan semua itu, membuat karya legendaris Pram ini wajib dibaca oleh masyarakat Indonesia, terkhusus generasi mudanya. Nusantara yang dulu menjadi hulu dunia, berbalik menjadi hilir karena perpecahan dan kelupaannya terhadap kekuatan maritim yang begitu penting, menjadi tamparan’ bagi Indonesia sekarang. Intisari Arus Balik sesuai dengan apa yang terjadi saat ini dan harus bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk Indonesia. Dan pertanyaannya adalah akankah Nusantara terus menjadi hilir dunia ataukah Arus akan berbalik kembali dari Selatan menuju Utara? 16 Januari 2017 Lampung

Puncak arus balik kemungkinan besok (hari ini) dari sore sampai malam," kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo saat dihubungi, Sabtu (2/12/2020).

Sinopsis Novel Arus Balik Karya Pramoedya Ananta Toer - Selamat siang, selamat berjumpa lagi dengan blog MJ Brigaseli. Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sinopsis novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1995. Arus Balik adalah sebuah epos pasca kejayaan Nusantara sebagai kekuatan dan kesatuan maritim pada awal abad 16. Arus Balik mengisahkan tentang sebuah arus yang berbalik. Setelah keruntuhan kerajaan Majapahit 1478 M membuat arus Nusantara yang dahulunya merupakan mercusuar dari Selatan yang selalu mendominasi Utara, akhirnya harus menerima kenyataaan bahwa arus yang selama ini berjalan, telah berbalik. Hingga pada akhirnya Indonesia dan sekitarnya Nusantara saat itu harus menerima kenyataan sekian abad lamanya terjajah. Pada awalnya Nusantara sebagai wilayah selatan Asia mampu menjadi mercusuar peradaban dunia dengan kerajaan yang maha besarnya, Majapahit, yang kekuasaannya tersebar hingga Tumasik sekarang Singapura, Malaya Malaysia, dan beberapa negera ASEAN lainya, namun itu hanyalah dongengan belaka bagi masyarakat Nusantara waktu itu sekitar tahun 1251 M. Kerajaan Majapahit sudahlah hancur dalam perang saudara tak berkesudahan, wafatnya sang Mahapatih Sakti Mandraguna Gajah Mada menjadi titik awal, kemudian berturut-turut peristiwa menggrogoti kerajaan ini, dan akhirnya lenyap setelah kedatangan agama Islam. Setelah itu Arus pun berbalik, kerajaan-kerajaan yang dahulunya berada dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri. Para keturunan bangsawan Majapahit pun lebih memilih konsentrasi pada wilayah kekusaaan yang tersisa, termasuk Adipati Tuban, Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Tidak seperti nenek moyangnya yang selalu ambisius melebarkan sayap kekuasaan, Wilwatikta tidak berhasrat sama sekali untuk memperluas kekuasaannya. Tapi, masa depan Tuban akan berubah drastis bukan saja bergeraknya arus dari eksternal kedatangan Portugis dan internal hadirnya Demak yang ambisius, namun yang lebih penting munculnya sosok Galeng pemuda desa yang hadir dalam hingar bingar arus tersebut dengan cemerlangnya wibawa dan mahirnya memikat hati masyarakat sekitarnya lewat kemahiran silatnya. Idayu dan Galeng adalah pemuda desa yang berasal dari keturunan rakyat biasa. Di desanya, mereka sering mendengarkan ceramah Rama Cluring seorang guru pembicara yang kerjanya berpetualang dan berbicara di setiap tempat yang disinggahinya. Isi ceramah Rama Cluring yang selalu hidup di pikiran mereka adalah tentang melawan kemerosotan dan tentang persatuan Nusantara. Inilah yang kemudian jadi dasar bagi Galeng dalam menjalankan tugas negara. Materi tentang kemerosotan yang sering disinggung Rama Cluring adalah kemerosotan kaum ningrat dan kemerosotan rakyat. Saat membicarakan kedua hal tersebut, tidak jarang sampai mengkritik adipati, hal yang setengah mustahil dilakukan waktu itu. Karena kritikannya itu, Rama Cluring diracun oleh kepala desa. Sebelum meninggal, Galeng dan Idayu-lah yang mengurusnya. Ketika kembali diadakan berbagai kejuaraan di Tuban, kepala desa berniat mengirimkan Galeng dan Idayu yang sudah dua kali berturut-turut mendapatkan juara. Semula mereka menolak, namun karena ancaman kepala desa atas perbuatan mereka yang menolong Rama Cluring, akhirnya mereka bersedia ikut. Mereka menjadi juara untuk ketiga kalinya, Idayu menjadi juara tari dan Galeng menjadi juara gulat. Sebagai juara tiga kali berturut-turut, Idayu terkena aturan khusus, yaitu harus menjadi selir adipati. Mengetahui hal itu, Idayu dan Galeng sangat sedih. Sebagai juara, Idayu diperbolehkan mengajukan permintaan kepada adipati. Permintaan yang diajukannya adalah agar dirinya dinikahkan dengan Galeng. Adipati Tuban marah, tangannya memegang keris. Namun, dihentikannya karena kesadaran bahwa seluruh rakyat Tuban mencintai Idayu. Patih Tuban menunjukkan dukungannya atas Idayu dan Galeng, begitu juga hadirin yang lain. Adipati Tuban akhirnya meluluskan permintaan Idayu, tidak hanya itu, Galeng dan Idayu dinikahkan di kadipaten, menjadi pengantin kerajaan. Tidak lama berselang, Galeng diangkat menjadi Syahbandar Muda Tuban. Salah satu tugasnya adalah mengawasi Syahbandar Tuban yang dicurigai punya hubungan dengan Portugis. Tidak hanya itu, kemudian Galeng diangkat menjadi Kepala Angkatan Laut Tuban. Sebagai kepala angkatan laut, tugas pertama yang diembannya adalah bergabung dengan Adipati Unus, melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka 1512-1513 M. Walaupun ikut berangkat, Galeng tidak ikut bertempur karena Adipati Tuban sengaja memperlambat keberangkatannya, agar namanya tidak hancur di mata Jepara dan kerajaan lain dan juga tetap baik di mata Portugis. Galeng hanya menemukan armada Adipati Unus pulang dalam keadaan hancur. Bahkan, Adipati Unus sendiri menderita luka di sekujur tubuhnya. Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar bahwa mantan Syahbandar Tuban yang tidak rela dengan penggantiannya, menggalang kekuatan di Desa Rajeg. Tidak hanya itu, aktivitasnya sudah menunjukkan akan melakukan penyerangan terhadap Tuban. Atas berita ini, Patih Tuban berusaha menggerakkan tentara yang cukup besar. Namun, Adipati Tuban tidak pernah berkenan, dia hanya mengizinkan untuk memberangkatkan lima ratus orang tentara. Karena tindakan adipati ini, ditambah penghinaan yang sering diterimanya, Patih Tuban menjadi patah semangat. Melihat tidak ada niat pada Patih-Senapati Tuban untuk memberantas pemberontak, Galeng terpaksa membunuhnya dan mengambil alih semua tentara. Kadipaten dikosongkannya, adipati dijauhkan dari kekuasaan agar tidak mengganggu rencananya. Dalam waktu tidak terlalu lama, tentara Rajeg berasil dihancurkan. Setelah mendapatkan kemenangan yang gemilang, Galeng kembali menyerahkan kekuasaan pada adipati. Namun, Adipati Tuban tidak menerima tindakan Galeng yang dianggapnya lancang. Hanya karena dukungan dari para pemimpin pasukan lain—ditambah pengetahuan adipati bahwa semua rakyatnya mencintai Galeng dan Idayu—dia bisa terbebas dari hukuman mati. Akhirnya tindakan terkeras yang dapat dilakukan adipati hanyalah mengusir Galeng dari Tuban. Sementara itu, Sultan Demak meninggal dan digantikan putra mahkotanya yang bernama Unus 1518 M. Keadaan Unus yang cidera membuat dia hanya bertahta selama tiga tahun. Walaupun begitu, dirinya sudah berusaha membangun angkatan laut yang besar, semua pendanaan dikerahkan ke Bandar Jepara, tempat pembuatan kapal-kapal perang yang besar. Sepeninggal Adipati Unus 1521 M, Trenggono naik tahta dengan cara membunuh Pangeran Seda Lepen yang berpotensi untuk menggantikan Unus. Atas desakan ibunya, Trenggono yang lebih mengutamakan pasukan kuda itu akhirnya bersedia menyerang Malaka. Fatahillah diangkat sebagai pimpinan pasukan lautnya. Sementara itu, pasukan kuda tetap berada di tangannya. Untuk melakukan penyerangan tersebut, Ratu Aisah sudah menjalin kerja sama dengan beberapa kerajaan. Seperti pada penyerangan pertama 1512-1513, Tuban ikut serta. Oleh karena itu, Galeng dipanggil kembali ke Tuban untuk bergabung dengan Demak menyerang Malaka. Adipati mengutus Patih Tuban yang baru Kala Cuwil Sang Wirabumi untuk menjemputnya. Pada penyerbuan kali ini Demak yang dipimpin Fatahillah berkhianat dengan melakukan penyerangan terhadap Jawa dari arah Barat. Sementara itu, pasukan kuda yang dipimpin oleh Trenggono melakukan penyerangan terhadap Jawa bagian timur. Seperti kerjaan-kerjaan lain, Tuban pun tidak lepas dari serangan Demak, hanya dengan usaha keras dan sikap pantang menyerah sajalah mereka berhasil mengusir kembali pasukan Demak. Galeng merasa usahanya tidak akan berhasil dengan sedikitnya jumlah pasukan dan persenjataan. Oleh karena itu, dia tidak marah kepada anak buahnya yang berubah menjadi petani bersenjata dan menikah dengan penduduk setempat. Setelah mengetahui bahwa Portugis melakukan penyerangan dan menguasai Tuban, Galeng beserta beberapa orang prajurit pulang ke Tuban. Dalam pimpinannya pasukan Tuban berhasil mengusir Portugis. Galeng adalah rakyat biasa dengan pengabdiannya yang luar biasa. Setelah mengabdi untuk adipati, bangsa, dan negaranya, dia kembali menjadi petani di pedalaman Tuban. Itulah tadi sinopsis novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer. Semoga bisa bermanfaat dan menghibur pembaca semuanya. Depok Jabar (ANTARA News) - Novel "Sang Pencerah" yang menceritakan mengenai perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam mendirikan organisasi Islam Muhammadiyah, dinilai dapat menginspirasi kalangan generasi muda untuk memiliki karakter dan spiritualitas yang kuat, kata salah seorang pembahas buku tersebut. "Novel ini banyak memberikan pelajaran
Resensi novel para priyayi ini akan memaparkan ulasan mengenai kelebihan dan juga kekurangan dari novel ini secara lengkap. Identitas, sinopsis, intrinsik serta ekstrinsiknya. Pesan moral yang terkandung juga akan kamu ketahui selengkapnya dalam artikel resensi ini. Informasi ini tentunya berguna bagi kamu yang berminat ingin memiliki buku ini. Identitas Novel Para Priyayi Judul NovelPra PriyayiPenulisUmar Kayam Jumlah halaman308 HalamanUkuran buku13×21 cmPenerbitPT Pustaka Utama GrafitiKategoriFiksiTahun Terbit1992Harga novelRp. Novel karya Umar Kayam ini merupakan novel yang sangat lama dimana novel ini diterbitkan pertama kali di tahun 1992. Dan novel ini syarat akan penuh makna sehingga cocok untuk kamu coba baca. Novel yang menceritakan tentang makna Priyayi yang sebenarnya. Yang di contohkan oleh para tokohnya serta mengaitkan dengan kebudayaan Jawa tentang Priyayi. Sinopsis Novel Para Priyayi Novel Para Priyayi ini menceritakan tentang Soedarsono seorang anak dari keluarga buruh tani yang oleh orang tua dan sanak keluarganya. Di harapkan dapat menjadi “Sang Pemula” untuk membangun dinasti keluarga Priyayi kecil. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten ia bisa sekola dan kemudian menjadi guru desa. Dan dari sinilah ia memasuki dunia elite birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya melewati zaman Belanda dan zaman Jepang tumbuh sebagai guru opsir peta dan istrinya asisten Wedana. Cita-cita keluarganya berhasil. Lalu lantas seperti apakah sesungguhnya “priyayi” itu? Status kelas? Pandangan dunia? Atau sekedar gaya hidup? Atau bahkan semuanya? Simak buku ini agar mengetahui Priyayi yang sesungguhnya. Unsur Intrinsik Novel Para Priyayi Dalam resensi novel Para Priyayi ini terdapat unsur intrinsik yang harus kamu ketahui, dan berikut merupakan unsur intrinsik dari novel Para Priyayi 1. Tema Novel ini mengangkat tema tentang perjuangan Priyayi sejati demi mengayomi keluarga dan rakyat miskin. 2. Tokoh dan Penokohan Berikut ini merupakan tokoh-tokoh yang terdapat dlaam novel Para Priyayi, yaitu diantaranya Lantip, dengan watak tegas, bijaksana dan cerdas. Sastrodarsono, Eyang pembangunan keluarga Priyayi ini digambarkan dengan sosok penuh wibawa, pejuang sejati, kebapaan, dan teguh pendirian. Ngaisah, Eyah Putri yang sangat sabar , keibuan, dan penuh kasih sayang. Noegroho, anak sulung dan seorang tentara Peta Yogya, yang berwatak keras, tegas, dan berwibawa. Hardojo, anak keuda yang menjadi andi dalem Mangkunegaraan di Solo, ia sangat penyabar dan cinta tanah air. Soemini, anak bungsu yang memiliki prinsip hidup yang koko, cerdas dan sangat mengutamakan pendidikan. Harimurti, sosok yang mudah terhasud, seniman yang memiliki citra rasa yang tinggi. 3. Alur Alur yang digunakan dalam novel Para Priyayi ini yaitu menggunakan alur campuran. Dimana di dalamnya terdapat alur maju dan alur mundur flashback. 4. Latar Waktu Latar waktu yang digunakan dalam novel Para Priyayi saat di tahun-tahun terjadinya G 30 SPKI. Dimana suasana mencekam waktu itu begitu sempurna di ceritakan dalam novel Para Priyayi ini. 5. Latar Tempat Latar tempat yang digunakan dalam novel ini yaitu di sebuah tempat di Solo yang bernama Wanagalih, dan Yogyakarta. 6. Sudut Pandang Sudut pandnag yang digunakan dalam novel ini yaitu menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Namun uniknya tokoh yang ada di dalam cerita seolah-olah bergantian bercerita. 7. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini menggunakan gaya bahasa yang santun dan bahasa jawa yang santai dan tetap halus. 8. Amanat Amanat yang terkandung dalam novel Para Priyayi ini yaitu kita dapat memetik bagaimana sebenarnya serang yang dikatakan “Priyayi” yaitu seorang yang dapat mengayomi keluarga dan rakyat miskin. Memiliki pendirian yang kokoh dan berjuang keras tanpa pamrih. Selalu menjaga nama baik keluarga. “Mikul duwur, Mendem jero” yang artinya menjunjung tinggi nama baik, mengubur dalam aib keluarga. Unsur Ekstrinsik Novel Para Priyayi Berikut ini merupakan unsur ekstrinsik dari novel Para Priyayi, yaitu 1. Nilai Pendidikan Nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Para Priyayi ini terlihat dari keluarga Sastrodarsono, Eyang pembangunan keluarga Priyayi ini digambarkan dengan sosok penuh wibawa, pejuang sejati, kebapaan, dan teguh pendirian. Dan semua anaknya disekolahkan dan menjadi orang-orang yang berhasil begitu pula anak-anak angkatnya termasuk Lantip. 2. Nilai Sosial Keluarga Sastrodarsono memiliki hati yang baik dia memperjuangkan saudaranya yang miskin agar tetap bisa bersekolah dengan baik. Sehingga mencerminkan nilai sosial tolong menolong terhadap sesama. Selain itu sikapnya yang lembut dan berwibawa menggambarkan bahwa ia seorang priyayi yang sesungguhnya. Dan pejuang sejati. 3. Nilai Moral Lantip yang tidak mempermasalahkan latar belakangnya dan ia fokus untuk terus menjadi terbaik dan menjunjung tinggi keluarga. Ia merupakan orang yang bekerja keras dan sangat cerdas. Kelebihan Novel Para Priyayi Banyak pesan moral di dalam novel ini Setiap tokoh mencontohkan kebaikan yang patut di contoh Kita bisa memahami arti priyayi yang sebenarnya dari kisah di novel ini Memberikan semangat dan kemauan untuk maju bagi pembaca Kekurangan Novel Para Priyayi Alur yang digunakan campuran hingga bagi yang belum biasa akan merasa terganggu. Penggunaan kata yang kurang efektif Pembagian tokoh yang kurang jelas Pesan Moral Novel Para Priyayi Terakhir dari resensi novel Para Priyayi yaitu pesan moral yang terkandung di dalam novel tersebut adalah bagaimana sebenarnya seorang yang dikatakan “Priyayi”. Yaitu seorang yang dapat mengayomi keluarga dan rakyat pendirian yang kokoh dan berjuang keras tanpa pamrih. Selalu menjaga nama baik keluarga. “Mikul duwur, Mendem jero” yang artinya menjunjung tinggi nama baik, mengubur dalam aib keluarga.
Danmotif keagamaan di balik perjuangan pangeran Diponegoro-lah yang sangat dibenci oleh kolonial. bahkan tersesat di arus kemajuan." Chevallier (h.309) Dalam novel sejarah ini pula, Penulis mencoba menyampaikan beberapa pesan yang pernah digaungkan beberapa tokoh bangsa, seperti prinsip-prinsip HOS Cokroaminoto dengan "setinggi-tinggi
Oleh Sabjan Badio, Burhan Nurgiyantoro, dan Hartono Abstract This study aims to describe the struggle of the character in the novel Arus Balik. The method used is the content analysis method. Data is obtained by reading and recording techniques. Data were analyzed with qualitative descriptive analysis techniques through data comparison, categorization, data presentation, and inference. The results showed that the struggle of the character in the Arus Balik novel by Pramoedya Ananta Toer consisted of heroism 28%, nationalism 33%, never giving up 25%, family relationship 9%, and selflessness 5%. The value of the struggle for heroism consists of being wary of the enemy, defending the people, defending the truth, selflessness, daring to die, being responsible, and commanding authority. The value of nationalism consists of love for the flag itself, loyal to the leader, thinking about the safety of the country, supporting the struggle to defend the country, and participating in defending the country. The value of the unyielding struggle consists of fighting to the death and believing in your abilities. Meanwhile, the value of selfless struggle consists in not expecting any honor and not expecting any position. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perjuangan tokoh dalam novel Arus Balik. Metode yang digunakan adalah metode analisis isi. Data diperoleh dengan teknik membaca dan mencatat. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif melalui perbandingan antardata, kategorisasi, penyajian data, dan inferensi. Hasil penelitian menunjukkan perjuangan tokoh dalam novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer terdiri atas heroisme 28%, nasionalisme 33%, pantang menyerah 25%, kekeluargaan 9%, dan tanpa pamrih 5%. Nilai perjuangan heroisme terdiri atas waspada terhadap musuh, membela rakyat, membela kebenaran, tidak mementingkan diri sendiri, berani mati, bertanggung jawab, serta berwibawa memimpin pasukan. Nilai nasionalisme terdiri atas cinta pada bendera sendiri, setia pada pemimpin, memikirkan keselamatan negara, mendukung perjuangan bela negara, serta ikut serta membela negara. Nilai perjuangan pantang menyerah terdiri atas melawan sampai mati dan percaya kepada kemampuan sendiri. Sementara itu, nilai perjuangan tanpa pamrih terdiri atas tidak mengharapkan penghormatan dan tidak mengharapkan jabatan. Keywords heroism; kinship; nationalism; Pramoedya Ananta Toer; selflessness Baca artikel lengkapnya di Indonesian Language Education and Literature ILEaL Journal melalui tautan ini .... Thanks for reading Nilai Perjuangan dalam Novel Arus Balik Karya Pramoedya Ananta Toer Tags SASTRA Related Posts Show comments .
  • cl5km29fmz.pages.dev/23
  • cl5km29fmz.pages.dev/304
  • cl5km29fmz.pages.dev/465
  • cl5km29fmz.pages.dev/485
  • cl5km29fmz.pages.dev/476
  • cl5km29fmz.pages.dev/333
  • cl5km29fmz.pages.dev/318
  • cl5km29fmz.pages.dev/34
  • resensi novel arus balik